Kamis, 26 November 2020
TPAKD Meranti Dikukuhkan, Wagub Harap Percepat Akses Ekonomi Terutama UMKM Berbasis Hilirisasi | 4 Siswa Didakwa dalam Kasus Pemenggalan Guru di Prancis | Biadab, Istri Sedang Shalat Tahajut Ditusuk Suami Hingga 13 Kali | Habib Rizieq Dirawat di RS Ummi Bogor | Dituding Pengamat Bisa Pecah Belah Umat Karena Dukung Calon Pilkada, Ini Klarifikasi UAS | Belum Surut, Banjir di Desa Sontang Rendam Sejumlah Mushalla
 
Sosial Budaya
MUI Imbau Pengusaha Tak Minta Karyawannya Pakai Atribut Natal

Sosial Budaya - - Minggu, 03/12/2017 - 12:10:33 WIB

SULUHRIAU- Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI) Anwar Abbas mengimbau pengusaha tak memaksa karyawannya untuk memakai atribut Natal.

 Menurutnya, hal itu dapat mengusik kerukunan beragama.

"Tahun 2016 MUI keluarkan fatwa karena banyak keresahan di kalangan umat karena cukup banyak pengusaha yang menyuruh karyawannya untuk memakai atribut Natal. Dan cara yang mereka tempuh terus terang akan mengusik kerukunan beragama dan tak mustahil akan menimbulkan reaksi yang skala yang macam-macam," kata Anwar Abbas dikutip suluhriau.com dari detik.com Minggu (3/12/2017).

Dia mengatakan permintaan dari pengusaha kepada karyawannya secara tidak langsung akan dimaknai sebagai perintah atasan kepada bawahan. Dalam kondisi tersebut, karyawan otomatis akan mengikuti permintaan pengusaha tersebut karena ikatan kerja yang mengikat.

Anwar mengatakan tekanan tersebut dapat menimbulkan reaksi beragam. Menurutnya, dengan tidak meminta karyawan mengenakan atribut Natal, jadi jalan untuk membangun kehidupan beragama yang baik.

"Sementara yang menyebabkan timbulnya reaksi tersebut tak salah. Oleh karena itu kita mengimbau para pengusaha ini membangun kehidupan beragama yang baik. Caranya dengan saling menghormati. Dan jangan memaksakan, menyuruh karyawan menggunakan atribut non-Islam," ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk mendukung terwujudnya hal itu diperlukan kehadiran negara. Negara, kata Anwar, mesti menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya.

Anwar mengatakan pemerintah mesti memberikan sosialisasi kepada pihak pengusaha untuk tidak meminta karyawannya mengenakan atribut Natal.

"Bagi saya pemerintah harus menjelaskan hal ini ke dunia usaha. Jangan karena semangat Natal, orang lain tersinggung. Pemerintah seharusnya memanggil pengusaha, jelaskan. Ini kan baru tanggal 2, masih ada waktu untuk menyampaikan hal itu sampai tanggal 25 nanti," ujarnya.

"Kalau hal itu terjadi, kan sejuk sekali negara ini. Negara wajib menghormati agama Islam. Negara juga wajib menghormati agama Kristen. Alangkah indahnya jika saling menghormati antar umat beragama dalam beribadah," sambung Anwar. [jan,dtc]



 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2020 SULUH RIAU , All Rights Reserved