Jum'at, 19 Oktober 2018
Bantah Dana Kampanye Rp185 M, PSI: Cuma Rp 4,9 M | Luhut-Sri Mulyani Dilaporkan soal Pose 1 Jari, Tim Jokowi: Itu Spontan | Apindo Dukung Implementasi No 78/2015 Dasar Terapkan UMP 2019 | Buka Lokakarya Filateli Nasional 2018, Wawako: Ingat Sejarah Peran Besar Pos | APBD-P 2018 Pekanbaru Sudah Ditandatangani Plt Gubri | Satpol PP Sisir PKL Jualan di Sejumlah Titik Jalan Protokol
 
Ekbis
Rata-rata Penjualan Toko Ramayana Turun 0,9%

Ekbis - - Minggu, 03/12/2017 - 16:11:40 WIB

SULUHRIAU- Perbedaan pandangan tentang daya beli masyarakat antara pemerintah dengan pelaku usaha masih berlanjut.

Pelaku usaha teriak adanya pelemahan daya beli, sementara pemerintah percaya daya beli masyarakat masih kuat.

Hal itu juga turut dirasakan oleh PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS). Perusahaan pengelola pusat perbelanjaan masyarakat kelas menengah ke bawah juga ikut merasakan perlambatan daya beli.

Corporate Secretary Ramayana Lestari Sentosa, Setyadi Surya, mengatakan pertumbuhan rata-rata penjualan atau same store sales growth (SSSG) setiap toko dari awal tahun hingga November 2017 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya turun 0,9%. Itu artinya penjualan rata-rata Ramayana mengalami penurunan.

"Pokoknya Januari-November 2016 dibandingkan Januari-November 2017 -0,9%. Minggu depan kita raker, kita enggak tahu nih tahun depan apakah ekonomi akan membaik," tuturnya di Jatinegara, Jakarta, Ahad (3/12/2017).

Meski begitu, Ramayana hari ini tetap membuka 1 gerai baru dengan konsep premium di Cityplaza, Jatinegara. Gerai yang disebut Ramayana Prime itu menjadi cabang ke 114 milik perseroan dengan luas 8.353 meter persegi.

"Kita tahun ini buka 4 di Harapan Indah, Pondok Aren, Cikupa, dan ini," tuturnya.

Namun pembukaan cabang baru tersebut diakuinya lantaran sudah masuk dalam rencana kerja tahunan perseroan. Sebagai perusahaan publik, ada tanggung jawab untuk merealisasikannya.

"Kenapa buka baru ya enggak ada jalan lain. Kita sudah janji sama investor, tanpa ada ekspansi tidak terjadi pertumbuhan," tambahnya.

Menurut Setyadi dengan catatan SSSG yang masih -0,9% itu seharusnya sulit bagi Ramayana mencatatkan pertumbuhan. Apalagi beban perseroan semakin berat dengan kenaikan tarif listrik, sewa mall hingga upah minimum.

"Sewa mall rata-rata bisa naik 5%, UMP 8,71%, sedangkan pertumbuhan kita enggak ada," tukasnya. (dtf, jan)

 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Pemilu 2014 | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2017 SULUH RIAU , All Rights Reserved