Sabtu, 26 Mei 2018
Pemkab Meranti Gandeng FITRA Gelar Rapat Finalisasi DIP | Uang Tunai Rp 400 M dan 400 Tas Mewah Disita dalam Skandal 1MDB | Realisasi Harga Pertalite Turun Tunggu Diharmonisasi DPRD Riau | Jagung Ungu Inovasi Dosen UB | Masjid Alfalah Pekanbaru Panen Kurma Perdana | PNS-Pensiunan Dapat THR, Ratusan Ribu Guru Honorer Tak Dapat
 
Daerah
Harimau Mangsa Karyawan PT THIP Jumiati di Inhil Masih Berkeliaran

Daerah - - Selasa, 13/02/2018 - 15:01:23 WIB

SULUHRIAU, Pekanbaru - Masyarakat dihebohkan harimau di Indragiri Hilir (Inhil) Riau yang memangsa Jumiati beberapa waktu lalu.

Harimau itu hingga kini masih belum ditemukan keberadaannya. Selidik punya selidik, masih ada 4 harimau lain yang juga masih berkeliaran.

Harimau yang memangsa Jumiati pada 3 Januari 2018 lalu, hingga kini masih berkeliaran di Kecamatan Pelangiran, Inhil. Tim Balai Besar Konsevasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, sudah 6 tim silih berganti untuk menangkap harimau ini. Caranya, dengan memasang kandang jeratan dengan umpan kambing. Tapi, upaya itu hingga kini belum berhasil.

Hasil analisis pihak BBKSDA Riau, diperkirakan harimau yang memangsa Jumiati masih dalam lanskap hutan suaka margasatwa Kerumutan yang secara administrasi berada di Pelalawan, Riau.

Hasil kamera trap yang dipasang BBKSDA Riau, dari Suaka Margasatwa Kerumutan hingga ke lokasi tempat Jumiati menjadi korban konflik, terlihat ada 5 harimau.

"Jadi berdasarkan kamera trap yang kita pasang sejak tahun 2016 hingga 2018 ini, tertangkap kamera ada 5 harimau termasuk yang memangsa warga itu," kata Kepala BBKSDA Riau, Suharyono dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (13/2/2018).

Sehingga dalam lanskap dari Suaka Margasatwa Kerumutan hingga ke lokasi konflik masih wilayah jelajah harimau. Upaya untuk mengevakuasi harimau yang memangsa Jumiati dianggap hanya akan menyelesaikan persoalan sesaat.

"Artinya kalau pun nantinya harimau itu bisa dievakuasi dipindah ke tempat yang lain, ini hanya untuk solusi singkat saja. Sebab, lokasi tempat komplik itu masih satu lanskap dengan Kerumutan," kata Haryono begitu sapaan akrabnya.

Dengan satu lanskap, kata Haryono, maka harimau lainnya akan kembali masuk ke lokasi yang sama. Itu artinya kembali menjadi persoalan yang baru. Sebab, wilayah konflik merupakan wilayah jelajah harimau.

"Makanya kami sampaikan persoalan ini harus ada kajian yang lebih mendalam lagi. Kami juga sudah sampaikan hal ini ke Menteri KLHK," kata Haryono.

Kajian dengan melibatkan berbagai pihak ini, kata Haryono, sangat dibutuhkan demi penyelamatan harimau Sumatera yang masih tersisa.

"Jadi memang perlu ada pengkajian soal ini. Karena dalam lanskap itu terdapat 5 ekor harimau di sana. Kalaupun nantinya harimau yang memangsa warga itu berhasil dievakuasi, wilayah itu juga akan kembali di datangi harimau lainnya," kata Haryono.

Sebagaimana diketahui, Jumiati karyawan PT Haji Tabung Indo Plantation (HTIP) ditemukan tewas setelah diserang harimau. Lokasi perkebunan sawit itu ternyata bagian dari wilayah jelajah harimau sumatera. [dtc,jan]

 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Pemilu 2014 | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2017 SULUH RIAU , All Rights Reserved