Rabu, 14 April 2021
Akun Fanpage Facebook Resmi Ustadz Abdul Somad Raib | Sebagian Warga Muslim di Aceh Baru Puasa Ramadhan Hari Ini | Rabu, Di Titik Wilayah Tertentu di Pekanbaru Mulai Diterapkan PPKM | Safari Ramadhan di Masjid Al-Huda Desa Mantiasa, Bupati Serahkan Bantuan Rp100 Juta | STIE Bangkinang Lakukan Assessment Lapangan Bersama Badan Akreditasi Nasional | Copot Stiker Berisi Ayat Alquran, 2 Perawat Terancam Hukuman Mati
 
Daerah
Ini Perbedaan Perilaku Harimau Boni dan Bonita di Inhil

Daerah - - Kamis, 22/03/2018 - 10:27:57 WIB

SULUHRIAU, Pekanbaru- Di lokasi konflik manusia vs harimau di Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Riau sebenarnya ada dua satwa liar.

Mereka diberi nama harimau Bonita dan Boni. Lantas apa berpedaan keduanya?

Tim Rescue Terpadu yang dibentuk Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, sudah lebih 73 hari 'memburu' harimau liar Bonita yang sudah menawaskan dua orang yakni Jumiati dan Yusri. Namun hinga kini tim belum berhasil mengevakuasi Bonita.

Tapi perlu diketahui, di lokasi konflik itu dipastikan ada dua ekor harimau. Untuk menandai individu, BBKSDA Riau memberi nama satu harimau lagi Boni. Kepastian ada dua ekor harimau berdasarkan kamera trap yang terpasang. Sosok kedua harimau yang terekam kamera dipastikan ada dua individu yang berbeda. Bonita dan Boni terjadi berbedaan belangnya di bagian kaki belakangnya.

Tapi, Boni saat ini tidak menjadi target untuk dievakuasi. Karena hasil pengamatan dan lapangan, yang melakukan penyerangan itu adalah Bonita. Perilaku Bonita sudah menyimpang dari kebiasaan sebagai satwa dilindungi. Bonita sudah merasa nyaman berinteraksi dengan manusia.

Untuk Boni, dia dianggap masih berperilaku normal. Indikator itu berdasarkan hasil jepretan kamera trap yang dipasangan BBKSDA Riau. Boni terpantau kamera pada akhir Januari. Dan kembali terpantau kamera sepekan sebelum terjadi penyerangan Bonita ke Yusri pada 10 Maret 2018.

"Terakhir kali harimau Bonita tertangkap kamera trap kira-kira sepekan sebelum terjadi konflik kedua," kata Kepala Bidang Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Mulyo Hutomo Kamis (22/3/2018).

Boni menurut Hutomo, selalu terpantau kamera pada malam hari. Rata-rata Boni terekam kamera dari pukul 23.00 sampai dengan 03.00 WIB. Kondisi itu dianggap normal karena memang harimau biasanya lebih sering mencari makan pada malam hari.

"Jadi perilaku Boni ini masih normal. Dia tertangkap kamera selalu malam hari," kata Hutomo.

Walau demikian, kata Hutomo, Boni juga pernah terpantau pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB. Boni juga pernah berjumpa dengan warga.

"Tapi Boni ini selalu ditemui warga paling dekat jaraknya 200 meter. Secepat kilat Boni pasti menghindari manusia. Kalau dia kesiangan berada di kebun sawit, Boni segara masuk ke dalam hutan kawasan hutan produksi terbatas yang berdekatan dengan kampung Danau," kata Hutomo.

Berbeda dengan saudaranya Bonita. Malah puncak predator yang satu ini merasa nyaman dekat dengan manusia.

"Bonita perilakunya berubah tidak seperti Boni. Kalau Boni masih menghindari manusia, justru Bonita sebaliknya. Jadi ada perbedaan perilaku keduanya. Bonita sudah menyimpang dari kebiasaanya," kata Hutomo.

Sumber: detik.com | Editor: Jandri



 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2020 SULUH RIAU , All Rights Reserved