Kamis, 19 Juli 2018
Protes Kenaikan Upah Minim, Ratusan Buruh Demo di Kantor SKK Migas | Pemko Siapkan Penyambutan Api Obor Asian Games XVIII 2018 | Mendikbud Berencana Terapkan Sistem Zonasi di Sekolah Swasta | Agen Intelijen Rusia Maria Butina Tawarkan Seks Demi Jabatan | Rumah Mardani Ali Sera Dilempar Molotov, Polisi: Pelempar Diduga 2 Orang | 79 Kabupaten/Kota Berlomba Jadi Terbaik Predikat Sekolah Sehat
 
Metropolis
Saat Paripurna HUT ke 234, LAM Lontarkan Kritik ke Pemko Pekanbaru

Metropolis - - Sabtu, 23/06/2018 - 14:20:22 WIB

SULUHRIAU, Pekanbaru- Hari ini Pekanbaru ulang tahun ke 234. Ternyata tidak hanya hal positif yang dilihat dihari HUT ini.

Pandangan berbeda muncul dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Pekanbaru. LAM melontarkan kritik terkait eksistensi budaya di Pekanbaru yang dinilai mulai memudar.

Adalah OK Jamil Tuan Tabrani, Wakil Ketua Majlis Kerapatan Adat (MKA) LAM Pekanbaru, saat rapat paripurna diberikan kesempatn untuk menyampaikan sejarah singkat Pekanbaru.

Naman dalam pidatonya, sedikit menyisipkan kritik kepada Pemko. Ok Jamil mengatakan, saat ini Pemko Pekanbaru katanya kurang mengawasi izin bangunan yang dikelluarkan (IMB).

Bangunan Melayu Pekanbaru yang berselembayung seharusnya menjadi syarat pembangunan sudah tidak diperhatikan. Akibatnya, bangunan yang berselembayung sebagai khas Melayu, bisa dihitung dengan jari.

Tak luput jadi sorotan LAM adalah, bergantinya visi Pekanbaru Kota 'Bertuah' menjadi Kota Madani. Walaupun katanya Madani itu bagus.

"Kami sangat menyayangkan dengan bergantinya visi Pekanbaru Kota Bertuah menjadi Kota Madani. Kami dari LAM Kota Pekanbaru tidak pernah dilibatkan dalam bergantinya visi Pekanbaru," katanya.
 
Selain itu, OK juga mengkritik soal banjir dan jalan rusak yang akhir-akhir ini nyaris tidak teratasi. Pihak LAM menilai ini harus kembali menumbuh menumbuhkan kesadaran bersama agar masalah serius bisa diatasi.

Begitu juga LAM apresiasi penggunaan tanjak tahun ini. Namun, kepada susluhriau.com usai acara paripurna OK Jamil mengatakan, perlu disosialisasi secara benar penggunaan tanjak. "Bagus kita gunakan tanjak, tapi ingat ini pakaian kebesaran, punya makna dan pilosofi, kalau pakai tanjak harus lengkap pakaian adatnya. Kalau tidak itu sama dengan ikat kepala. Kalau ikat kepala kita sedang mencangkul, baju compang camping bisa digunakan, tapi kalau tanjak tidak demikian," paparnya Sabtu, (23/6/2018).

Ia juga mengingatkan, agar sama-sama kembali menimbulkan citra yang baik pada wilayah Kampung Dalam, karena akhir-akhir ini jadi sorotan. daerah itu bagian dari sejarah Pekanbaru.

Kritikan tersebut sampai langsung ke kuping Plt Gubernur Riau, Wan Thamrin Hasyim yang saat itu hadir Asisten I Setdaprov Riau, Ahmad Syah Harrofie, Plt Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi, Wakil Ketua DPRD, Muspida, ASN dan para tamu undangan, karena disampaikan di paripurna.

Beberpa diantara mengaku kaget dan tercengang. Pasalnya, kritikan disampaikan di rapat paripurna HUT Pekanbaru.

Menyikapi hal ini, Wakil Ketua DPRD Pekanbaru, Sondia Warman tidak mempermasalahkan kritikan tersebut, namun tempat dan waktunya dinilai tidak tepat, karena LAM hanya diberi waktu untuk menyampaikan sejarah singkat tentang Kota Pekanbaru. [chr]

 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Pemilu 2014 | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2017 SULUH RIAU , All Rights Reserved