Selasa, 25 09 2018
Dekranasda Bengkalis Ikut Pameran Kriyanusa 2018 di Jakarta | Maafkan Pelaku Pembajak Akun FBnya, Wako: Jika Terulang Tempuh Jalur Hukum | Diajukan Rp2,67 T, Akhir September APBD-P 2018 akan Disahkan | Pasca Bentrok Demo BEM Sri dengan Polisi di DPRD Riau, 1 dari 6 Mahasiswa Dirawat Intensif | Prabowo dan Komunitas Dokter-Perawat Bahas Defisit BPJS Kesehatan | Rapat Banggar DPRD Riau-TAPD 'Ricuh', Sesama Anggota Dewan Nyaris 'Baku Hantam'
 
Sosial Budaya
Mesjid Al Azhar Shalat Idul Adha Hari Ini, Pembina Jelaskan Alasannya

Sosial Budaya - - Selasa, 21/08/2018 - 10:09:46 WIB

SULUHRIAU, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, Jimly Asshiddiqie, menjelaskan alasan Masjid Al Azhar menggelar salat Idul Adha hari ini.

Dia mengatakan, pertama kalinya masjid Al Azhar berbeda dengan pemerintah dalam pelaksanaan Hari Raya Idul Adha.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, Jimly Asshiddiqie, menjelaskan alasan Masjid Al Azhar menggelar salat Idul Adha hari ini.

"Ya jadi alhamdulillah, kami sudah selesai melaksanakan salat sunah Idul Adha di Al Azhar dan meskipun pemerintah dan ormas terbesar kami Muhammadiyah, NU tetap menyelenggarakan besok sesuai dengan kalender yang sudah dicetak. Kami saling hormati itu masing-masing ada landasan ijtihadnya sendiri-sendiri," kata Jimly usai salat Id di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, Selasa (21/8/2018).
zhar Jaksel

"Tapi Al Azhar dari dulu selalu sama dengan apa yang diputuskan oleh ulil amri oleh pemerintah. Tapi tahun ini beda, mengapa beda? Karena ujurannya adalah haji itu arafah, arafah itu sudah kemarin wukufnya, nah kalau dulu ada ijtihad para ulama, makin luas jumlah orang Islam wilayah kaum muslimin, maka boleh kata rasulullah mempertimbangkan matla' (zona) yang membuat penentuan kalender itu beda-beda antar wilayah, tapi itu boleh bukan harus," sambungnya.

Jimly menjelaskan matla' diperlukan karena jarak dimana belum ada teknologi. Tapi, menurutnya, penentuan Idul Adha juga bisa dipersatukan dengan kesepakatan.

"Jadi biasanya di Indonesia ini ada lima hari perbedannya itu, nah ini bisa di persatukan kalau kami sepakat dengan kiblat yang sama. Metode hisab, metode rukyiat tetap dipakai tapi karena sudah ada GPS itu cukup kami tentukan ukurannya di Mekah. Nah kalau di Mekah itu sudah, ya tentu kami hari ini karena kan bedanya hanya 4 jam saja," tuturnya.

Meski berbeda dengan pemerintah, dia menegaskan untuk saling menghormati. Menurutnya, meski ada perbedaan, penetepan Idul Adha tetap diputuskan secara Islami.

"Nah jadi Al Azhar dari dulu begitu cara pandangnya tentang kalender Islam. Maka kita berkeyakinan yang hari ini lebih tepat. Walau pun kami harus menghormati keyakinan kaum muslimin yang berbeda pandangan tetap akan salat besok," katanya.

Salat Id di Masjid Al-Azhar juga diikuti oleh Ustaz Felix Siauw. Dia juga ikut merayakan Idul Adha hari ini mengacu pada wukuf di Mekah yang jatuh Senin 20 Agustus 2018 kemarin.

"Saya ambil bahwa penentuan awal dan akhir khusus untuk dzulhijjah yang lebih kuat adalah syarif Mekah karena di sana terjadi wukuf. Tapi kalau ada teman-teman yang melaksanakan pada esok hari itu pun ada pendapat Islami akhirnya tidak perlu dipermasahkan karena itu masih pendapat Islami. Saya pikir persatuan memang ada perbedaan, walau berbeda kita bisa bersatu," jelas Felix.

Sementara itu, dalam ceramah di Masjid Al-Azhar, KH Mahfudh Makmum selaku khatib menceritakan sejarah Idul Adha.  "Setelah Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah SWT agar menyembelih puteranya melalui mimpinya, beliau pun tunduk pasrah lahir dan batin," kata Mahfudh dalam ceramahnya.

Sumber: detik.com | Editor: Jandri

 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Pemilu 2014 | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2017 SULUH RIAU , All Rights Reserved