Selasa, 19 Februari 2019
Disdukcapil Natuna Luncurkan Layanan 'Pak Malaw' Urus Akte Kematian | 16 SLTA Sederajat di Kecamatan Tampan Ikuti Sosialisasi Pemilu Pemula | Ratusan Kampus Swasta Bermasalah Ditutup Menristekdikti | Satpol PP Bengkalis 'Garuk' PKL di Trotoar Jl Sudirman, Ini UU yang Bisa Menjerat yang Bandel | Pengcab Perbakin Meranti Terbentuk, Aprizal: Potensi Atlet Menembak Di Meranti Banyak | Azmi Mengudurkan Diri Dirut PT TPM?
 
Kesehatan
Ratusan Juta Pria Diprediksi Impoten di 2025

Kesehatan - - Kamis, 06/12/2018 - 07:54:40 WIB

SULUHRIAU- Sebanyak 332 juta pria di dunia diprediksi mengalami penyakit disfungsi ereksi atau impoten pada 2025.

Berdasarkan studi epidemiologi yang dikemukakan pakar andrologi, dr. Susanto Suryaatmadja, pada 1995 saja sebanyak 152 juta laki-laki mengalami gangguan kesehatan pada organ vital reproduksinya tersebut.

Dari jumlah itu, kaum Adam di Asia terbanyak mengalami gangguan ereksi, yakni diperkirakan sebanyak 113 juta orang. Disusul kemudian Afrika 19,3 juta orang, Amerika Selatan/Tengah dan Karibia 15,6 juta orang, Eropa 11,9 juta orang, Amerika Utara 9,1 juta orang, dan Oceania sebanyak 0,9 juta pria.

Disfungsi ereksi, kata Susanto, tidak hanya menyerang laki-laki sepuh usia di atas 70 tahun. Tetapi juga bisa mengidap pria usia muda. Bahkan, berdasarkan prevalensi pada usia tertentu, impotensi pada pria muda mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

“Siapa bilang disfungsi ereksi hanya pada orang tua?” katanya dalam seminar Mitos dan Fakta Disfungsi Ereksi di Surabaya, 5 Desember 2018.

Ereksi yang normal, papar Susanto, adalah kombinasi dari faktor psikogenik, hormonal, neurologi, dan vaskular. Secara garis besar kombinasi faktor ereksi itu terbagi dua, yakni psikogenik dan organik. Untuk ereksi dibutuhkan sirkulasi darah, fungsi saraf, hormon, dan libido yang normal.

Nah, disfungsi ereksi pada umumnya bersifat multifaktorial. Tidak seperti anggapan banyak orang yang diakibatkan karena menuanya usia, beberapa gangguan kesehatan lain juga berpengaruh pada ereksinya organ vital seorang pria. Seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular.

Dari sisi medis, disfungsi ereksi sebetulnya bisa diatasi. Tentu saja dengan berkonsultasi dan rajin memeriksakan diri kepada dokter yang ahli di bidang itu. Hanya saja, kata Susanto, banyak orang yang memilih jalan sendiri untuk mengatasi problem seksualnya itu, seperti mengkonsumsi obat herbal.

Dua faktor kenapa banyak pria yang terserang impoten enggan memeriksakan secara medis. Yakni budaya dan ekonomi.

“Banyaknya mitos yang berkembang di masyarakat sebagai bagian dari norma dan budaya menjadi salah satu penyebab keengganan pria penderita DE (disfungsi ereksi) untuk berkonsultasi dengan dokter dan cenderung memilih untuk mengobati sendiri,” kata dia.

Hal yang perlu diperhatikan, lanjut Susanto, masalah disfungsi ereksi ini tidak hanya membuat risau dan sedih kaum pria. Tentu saja pengaruhnya juga negatif bagi pasangan. Penyakit ini memicu rendah diri yang pada akhirnya menyebabkan depresi.

Sumber: Viva.co.id | Editor: Jandri


 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Pemilu 2014 | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2017 SULUH RIAU , All Rights Reserved