Kamis, 09 April 2020
HIPMI Lahirkan Aplikasi KendaliCovid19 Bantu Warga & Pemerintah Atasi Covid-19 | Forkopincam Bangun Purba Bersama TNI/Polri, PMI Rohul Bagi Masker dan Sembako ke Warga | Rayakan HUT Bawaslu ke-12, Pimpinan dan Segenap Staf Bawaslu Bengkalis Gelar Donor Darah | DPRD Tanjungpinang Sahkan Rp31,4 Miliar untuk Penanganan Covid-19 | Bupati Natuna Serahkan Bantuan Beras ke Warga dan APD ke Tenaga Medis Puskesmas | SPS Desak Insentif untuk Perusahaan Pers dan JPS untuk Wartawan
 
Daerah
Kenapa Wiranto Jadi Sasaran Teroris? Ini Menurut Pengamat

Daerah - - Jumat, 11/10/2019 - 10:07:27 WIB

SULUHRIAU- Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto diserang dan ditusuk pada bagian perutnya saat menghadiri peresmian gedung baru Mathla'ul Anwar di Menes, Pandenglang, Banten sekitar pukul 11.55 WIB, Kamis, 10 Oktober 2019.

Pelaku penusukan dan penyerangan, SA alias Abu Bara dan FD merupakan pasangan suami istri anggota Jamaah Ansharud Daulah (JAD).

Menurut pengamat teroris Al Chaidar, penyerangan itu terjadi karena akumulasi kebencian yang sangat kuat dari kelompok teroris kepada Wiranto. Pasalnya, Menkopolhukam dianggap orang yang paling bertanggung jawab terhadap kriminalisasi, kasus revolusi hingga kerusuhan di Wamena, Papua.

"Jadi banyak hal yang membuat dia jadi sorotan. Ini dipersepsikan oleh mereka (pelaku) sebagai kerugian bagi umat Islam," kata dia, seperti dilansir VIVA.co.id Jumat (11/10/2019).

Kebencian kepada Wiranto semakin bertambah, kata dia, karena sejumlah penyataan yang dikeluarkannya dinilai makin memperkeruh suasana. Menurutnya, pejabat publik seharusnya tak perlu memberikan jawaban atas semua persoalan dan sebisa mungkin memberikan jawaban yang menyejukan publik.

“Jadi harusnya dia memberikan jawaban-jawaban bahwa oke akan kita tanggapi, akan kita urus, akan kita apa. Jadi jangan pendekatan-pendekatan kekuasaan bahwa pejabat itu perlu diakui kekuasaannya,” tuturnya.

Dan jika dilihat dari metode yang digunakan pelaku saat menyerang Wiranto, Al Chaidar yakin bahwa mereka memang kelompok JAD. Kelompok JAD ini memiliki afiliasi dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan mengatakan bahwa kedua pelaku merupakan JAD jaringan Bekasi.
Abu Rara sebelumnya terdata dalam jaringan JAD Kediri, Jawa Timur. Kemudian, dia pindah ke Bogor, Jawa Barat. Usai bercerai dengan istri pertamanya, SA pindah ke Menes, Pandeglang, Banten.

Sedangkan polisi masih mendalami apakah penyerang Wiranto terkait dengan kelompok JAD Cirebon atau Sumatera. Hal itu diungkapkan Karopenmas Divhumas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

Menurut dia, pelaku diduga terpapar paham radikal ISIS. Orang yang terkena paham tersebut akan menyerang pejabat publik, terutama aparat kepolisian lantaran melakukan penegakan hukum terhadap mereka.

"Karena aparat kepolisian dan pejabat publik yang setiap saat melakukan penegakan hukum terhadap kelompok tersebut," kata Dedi.

Dan buntut dari kejadian ini, Presiden Joko Widodo alias Jokowi meminta pengamanan terhadap menteri-menterinya ditingkatkan. Sebab, penusukan kepada Wiranto menandakan ada potensi ancaman serupa kepada pejabat negara lainnya.

Sumber: Viva.co.id
Editor: Jandri


 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Pemilu 2014 | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2017 SULUH RIAU , All Rights Reserved