Kamis, 12 Desember 2019
Temuan Uang Palsu di Riau 2019 Turun Dibanding 2018 | Program Invetasi Sosial Chevron, Voted Lahirkan 315 Tenaga Terampil | Meranti Pacu Pertumbuhan Ekonomi Melalui Aksesbilitas Pelabuhan | Ratusan Mahasiswa dan Tokoh Masyarakat Rohul Ikuti Pembekalan Wawasan Kebangsaan | Seorang Karyawan IKPP Tewas Terpotong-potong Mesin Potong Kayu | Apakah Pertanyaan Kubur Diperuntukkan Semua Manusia atau hanya Muslim Saja?
 
Pendidikan
SDN 16 Desa Tj Peranap Meranti Disebut Bak 'Kandang Kambing', Guru-Siswa Tetap Semangat PBM

Pendidikan - - Kamis, 21/11/2019 - 08:48:47 WIB

SULUHRIAU, Meranti- Kondisi bangunan gedung SDN 16 Desa Tanjung Peranap KecamatanTebing Tinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti memprihatinkan.

Padahal gedung sekolah tersebut berada persis di salah satu wilayah ring satu
Penghasian Minyak Bumi di Provinsi Riau ini.

Saking memprihatinkan, SDN ini mendapat sebutan bak kandang kambing. Sebutan seperti  itu diakui oleh Kepala Sekolah Rohana (Kepsek) yang katanya ada pihak yang melontarkan penilaian itu.

Diceritakan Rohana, sekolah yang terbuat dari papan dan beratap rumbia layaknya film Laskar Pelangi  itu berdiri sejak 2007 sebagai lokal jauh SDN 16. Sekolah itu hanya memiliki enam lokal yang dibangun swadaya olehnya dan warga desa. Sementara untuk jumlah murid tidak kurang dari 65 orang yang dididik oleh Sembilan orang guru termasuk Rohana.

"Sekolah ini pernah disebut seperti kandang kambing," ujar Rohana, lirih menceritakan suka duka mengajar di sekolah itu, Rabu,  (20/11/2019).

Rohana sebagai kepala sekolah merupakan seorang PNS, dan dibantu oleh seorang guru PNS, empat orang guru honor komite serta dua orang guru honor daerah.

Diceritakannya, perasaan amat sedih jika hujan turun. Ia bahkan melarang anak-anak untuk mengeluarkan buku sekolah, karena seisi ruangan bisa basah kuyup lantaran atap sekolah itu bocor.

Sebelum menjadi Kepsek 2015 silam, sekolah berdinding papan merah tersebut hanya memiliki empat ruangan. Berselangnya waktu, mereka terpaksa menambah tiga ruangan lainnya agar bisa masuk akreditasi. "Walupun kondisi sekolah kami sangat parah, akreditasinya sudah C," ujarnya.

Karena akreditas itu wajib, pihaknya berjuang untuk mendapatkan akreditasi sekolah. Tidak itu saja,  ia juga bersusah payah sampai  harus memecahkan celengan untuk biaya membangun dua ruang belajar dan satu unit kantor guru.

Rohana mengatakan, sudah sering berupaya mengusulkan untuk  memohon bantuan kepada pemerintah. Namun, belum yang diterima baru janji belaka. Informasi katanya, tahun 2020 depan sekolah tersebut akan menerima bantuan pembangunan ruang belajar yang baru.

"Kabarnya 2020 dibantu oleh pemerimtah pusat, tapi tak tahulah. Pasalnya sebelum ini saya juga telah sering dijanjikan hal yang sama," ungkapnya.

Walupun demikian, ia dan beberapa orang guru yang mengabdi di sekolah itu masih menaruh harapan besar jika informasi tersebut, benar.

"Mudah-mudahan benar. Kami masih berharap dibantu. Tak perlu banyak, hanya enam ruang belajar agar murid kami nyaman, dan satu ruang kantor. Tak perlu bagus asal nyaman, bersyukur sekali kami para guru," ungkapnya.

Kendati kondisi sekolah demikian, guru dan siswa tetap semangat dalam proses belajar mengajar (PBM). "Ya sejauh ini kita tetap mengajar, anak-anak juga semangat belajar," pungkasanya.

Masuk Dalam Prioritas

Mengenai kondisi SD Negeri 16 Jalan Sidodadi Dusun II, Desa Tanjung Peranap, Kepulauan Meranti dibenarkan oleh Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Meranti, Syafrizal.

"Benar, memang demikian kondisinya. Tapi kami berupaya agar itu bisa masuk dalam skala prioritas 2020 mendatang," ungkapnya.

Mengenai data sekolah total sekolah rusak di Dapodik itu juga dibenarkan oleh Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Meranti Misdar Efendi.

Namun ia mengaku belum bisa memastikan jika jumlah ruang belajar yang rusak di Dapodik tersebut, benar. Pasalnya data tersebut diinput langsung oleh masing masing sekolah tanpa ferivikasi Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Meranti.

"Memang data Dapodik itu harus dievaluasi lagi. Khusus data  sarana dan prasarana  sekolah dan laporan kondisi sekolah yang real, saat ini kami masih dalam tahapan pendataan," ujarnya.

Walupun demikian, Misdar mengungkapkan jika pihaknya tetap berkomitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan di Meranti. Salah satunya dalam menyediakan ruang belajar yang laik, melalui usulan dana alokasi khusus (DAK) 2020 mendatang.

"Iya, untuk mengakomodir itu kita berharap besar dari DAK. Jika 2019 ini kita terima Rp 19 milliar, mendatang bisa besar dari ini. Untuk 2020 gambarannya kita akan menerima Rp54 milliar. Saat ini masih tahap singkronisasi, dan dalam waktu dekat akan final," ungkapnya.

Diakuinya, untuk meraih bantuan dari pemerintah pusat, saat ini pihaknya masih terbentur dengan status akreditasi yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi setiap sekolah. "Ada sekolah yang belum layak, dengan kondisi ruang belajar yang rusak dan lain lain, tapi mereka telah mengantongi akreditasi B. Dampaknya, setelah diusulkan untuk mendapatkan bantuan berbaikan, usulan itu ditolak karena pemerintah pusat menilai sekolah itu layak," ungkapnya.

Sehingga, menurut Misdar untuk saat ini pihaknya masih berupaya maksimal dalam proses perubahan data yang dimaksud agar singkoran dengan kondisi di lapangan.(tmy)

 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Pemilu 2014 | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2017 SULUH RIAU , All Rights Reserved