Selasa, 14 Juli 2020
Cegah Covid 19, Mahasiswa UNRI Berikan TTG di Koramil 02 Rambah | Anggota DPD RI Instiawati Ayus Kebut Penyusunan RKU-RKT Perhutanan Sosial Riau | Honda CR-V Facelift Makin Dekat dengan Penggemar di Indonesia | Dramatis! MU Vs Southampton Tuntas 2-2 | Seorang Pegawai Meninggal Dunia karena Covid-19, Kantor LAN "Lokcdown" | Anak Cristiano Ronaldo Diperiksa Polisi, Ada Apa?
 
Sosial Budaya
Cerita UAS Kumpulkan 'Harimau' Pastikan Jamaah Mesjid Shalat di Rumah

Sosial Budaya - - Kamis, 30/04/2020 - 07:45:20 WIB

SULUHRIAU– Ustadz Abdul Somad angkat bicara soal imbauan masjid tidak menggelar salat berjamaah saat pandemi Virus Corona atau COVID-19.

Sebagai ketua masjid di sekitar rumahnya, dia pun memutuskan meniadakan salat berjamaah, baik itu sjalat Jumat, Tarawih hingga Salat Idul Fitri.

UAS mengakui, masalah pelarangan sementara shalat berjamaah di masjid ini menjadi dilema para pengurus masjid. Sebab, hal ini bukan saja terkait masalah Fiqih, namun ada aspek sosial dan ekonomi di dalamnya.

"Di masjid tempat saya, saya ketua masjid. Maka saya sampaikan pada jamaah, masjid tutup dan kita salat di rumah," ujar UAS di acara Indonesia Lawyers Club, tvOne, Selasa 28 April 2020.

Dari aspek Fiqih syariat Islam, UAS menjelaskan, pelarangan shalat berjamaah di masjid ketika ada wabah yang terjadi, dimungkinkan untuk dilakukan. Namun dari aspek sosial dan ekonomi, ketua pengurus masjid terkadang tidak bisa memutuskan hal itu jika jamaahnya tidak sepakat.

"Di beberapa tempat justru ketua masjid dikudeta oleh jamaahnya. Karena masjid itu dibangun oleh jamaah,  ustaz-ustaznya diundang oleh jamaah, keuangannya dikelola jamaah. Maka ketika ada larangan, mereka bisa bilang ini masjid kami. Maka ini masalah tidak se-simple Fiqih, di sana ada masalah sosial dan ekonomi," ungkapnya.

Karena itu menurutnya, harus ada kegiatan lain yang membuat keberadaan masjid dalam situasi saat ini tetap dekat dengan para jamaah. Dalam hal ini, masjid bisa menjadi perantara jamaah saling membantu satu sama lain.

Dia pun menganalogikan jamaah di masjid terbagi dalam tiga level. Yaitu jamaah yang seperti harimau, ular sawah dan ayam kampung.

 Jamaah level satu dan dua dikategorikan jamaah yang mampu secara keuangan.

"Pertama, yang hebat-hebat seperti harimau, dia makan sekali cukup untuk satu tahun kenyang. Kedua ular sawah dia kalau makan satu kambing cukup sebulan tidak harus makan," ungkapnya.

Kemudian lanjut dia, jamaah ayam kampung adalah, yang memiliki tingkat ekonomi rendah. Atau, mereka yang harus mencari nafkah siang malam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

"Maka (jamaah) ini yang kita data berapa orang. Lalu, jamaah yang mampu-mampu tadi kita buka rekening kita terima bantuan, kita salurkan ke jamaah itu. Sehingga meski tidak kita ajak ke masjid tapi ada ikatan emosional ke masjid," tambahnya.

Di masjid yang dipimpinnya, UAS mengatakan, bantuan yang diberikan dibagi dengan tiga tahap. Yaitu, tanggal 10 April 2020 (Persiapan Ramadhan), 10 Mei 2020 (Persiapan Idul Fitri) dan 10 Juni 2020 andai (Pandemi) ini berlanjut.

"Jadi tidak hanya sebatas Fiqih tapi ada masalah sosial. Nah di sana lah ada wibawa negara, wibawa kekuasaan. Jamaah akan mendengar kalau mereka perutnya kenyang, ada bantuan," ujarnya.

Selain itu, untuk memastikan jamaah beribadah dengan baik selama Ramadhan, masjid yang dipimpinnya pun membuat tutorial video lengkap. Termasuk panduan Salat Tarawih hingga tadarus di rumah.

"Bahkan, di video tutorial itu sampai Salat Idul Fitri di rumah, lengkap dengan dalil-dalil Fiqihnya," tegasnya.

Sumber: Viva co.id
Editor: Jandri



 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2020 SULUH RIAU , All Rights Reserved