Selasa, 29 09 2020
Aturan Baru Sistem Kerja ASN: Instansi Pemerintah di Zona Merah, Kerja di Kantor Maksimal 25% | Nikita Mirzani Blak-blakan, Pernah Begituan dengan 2 Pria Berbeda dalam Sehari | Pelalawan Disebut, Bawaslu Ungkap Kampanye di 10 Daerah Ini Masih Langgar Protokol Covid-19 | BPS: Masyarakat Berpendidikan Rendah 'Pede' Tak Akan Tertular Covid-19 | Terbit Perpres 98 Tahun 2020 tentang Gaji dan Tunjangan PPPK, Alhamdulillah | Ditemukan Sekarat, Wanita Ini Tewas Tak Lama Setelah Diperiksa Petugas Puskesmas
 
Religi
Selamat Tahun Baru Islam 1442 H: Bagaimana Cara Menyambut Tahun Baru Islam?

Religi - - Rabu, 19/08/2020 - 09:32:39 WIB

SULUHRIAU- Bagi masyarakat dunia yang mayoritas menggunakan penanggalan tahun Masehi, Januari merupakan bulan awal tahun dan awal lembaran baru.

Hampir semua negara seolah menyelenggarakan perayaan tahun baru dengan ragam acara hiburan yanh meriah, bahkan kadang menjurus 'kebablasan', tak terkecuali di Indonesia.

Walaupun lebih dari 82 persen penduduk Indonesia menganut agama Islam, nyatanya hanya sebagian kecil yang tahu persis kapan datangnya tahun baru Islam.

Bahkan, sebagian besar tak hafal dengan nama-nama bulan Hijriah. Hal ini karena meski penduduknya mayoritas muslim, Indonesia menggunakan tahun Masehi sebagai penanggalan sehari-hari. Inilah yang membuat perayaan tahun baru Islam seolah kalah meriah dengan perayaan tahun baru Masehi.

Padahal, sebagai seorang Muslim, sudah sepatutnya untuk mengacu pada Al-Quran dan sunnah Rasulullah. Begitu pula mengenai perayaan tahun baru.

Lantas bagaimana Islam memandang hal ini?

Tahun baru Islam 1 Muharram Hijriah menjadi hari penting dan bersejarah bagi umat Islam. Awal tahun baru Islam menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam, yaitu memperingati peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Kalender Hijriyah inilah yang sejatinya menjadi sistem penanggalan umat muslim dengan menjadikan hijrah sebagai awal perhitungan tahun dalam Islam. Merayakan atau memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram hakikatnya adalah mengenang kembali peristiwa hijrah sekaligus mendalami makna hijrah dan pengamalannya masa kini.

Bagi seorang Muslim sangat penting mengetahui tanggal dan bulan Hijriyah lantaran berhubungan dengan pelaksanaan ibadah. Ibadah-ibadah tersebut antara lain puasa yang dilaksanakan satu bulan penuh pada bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal, Wukuf di Arafah saat Ibadah Haji tanggal 9 Zulhijjah, Hari Raya Idul Adha pada 10 Zulhijjah, dan Hari Tasyrik pada 11, 12, dan 13 Zulhijjah, serta Tahun Baru Hijriah 1 Muharam.

Penentuan tanggal 1 pada bulan Hijriah sejatinya ditandai dengan terbitnya hilal atau tampak bulan sabit pada saat terbenamnya matahari dengan derajat ketinggian tertentu. Ini sebabnya pada tanggal 1 Ramadhan saat akan dimulai bulan puasa, terdapat perbedaan antara satu negara dengan negara lainnya.

Bagaimana Merayakan Tahun Baru Hijriah?

Dalam menghadapi tahun baru Hijriah atau bulan Muharram, sebagian umat Muslim keliru dalam menyikapinya.

Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, haruskah tahun baru Islam disambut sangat meriah?

Sebenarnya tak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru Hijriah.
Merayakan tahun baru Hijriah secara meriah dengan pesta kembang api, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru Hijriah, menyalakan lilin, atau membuat pesta, jelas adalah sesuatu yang bukan tuntunannya.

Itu tak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, Abu Bakr, 'Umar, 'Utsman, 'Ali, dan para sahabat lainnya. Apalagi bagi mereka yang memeriahkan tahun baru Hijriah yang hanya ingin menandingi tahun baru Masehi, sungguh hal tersebut merupakan perbuatan tidak dilakukan.

Menyambut tahun baru Hijriah bukan dengan memperingati atau memeriahkannya secara berlebihan. Namun, yang perlu diingat adalah bertambahnya waktu atau tahun maka semakin pula dekat dengan kematian.

Dalam sejarahnya, Rasulullah SAW dan para sahabat beliau serta umat terdahulu sebenarnya tidak mengharuskan umat Islam merayakan kedatangan tahun Hijriah.

Namun, ada beberapa adab yang sekiranya perlu dilakukan dalam menyambut kedatangan tahun Hijriah adalah: Niat yang ikhlas mengharapkan keridaan Allah SWT yakni, mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya, nikmat kesehatan dan rezeki, serta bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikut beliau.

Pada tahun baru ini, kita mensyukuri seluruh nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah Swt di tahun sebelumnya agar nikmat tersebut bertambah dengan
berdoa, berharap dan memohon kepada Allah SWT agar meridhai dan menerima amalan-amalan yang dilakukan sebagai ibadah yang diterima, serta tetap menjadi pengikut Rasulullah SAW yang setia hingga akhir hayat.

Banyak bertafakur untuk bermuhasabah diri dengan bertambahnya usia. Karena sesungguhnya dengan bertambahnya usia, hakikatnya berkurang kesempatan untuk hidup di dunia ini. Inilah yang mesti dilakukan menyikapi datangnya tahun baru Islam.

Dan sekarang bertepatan masuknya 1 Muharram 1442 Hijriah (20 Agustus 2020), mari kita sambut tahun baru Hijriah 1442 ini sebagai cara untuk selalu mengintrospeksi diri, bersyukur, dan aktivitas hidup di dunia, bekal di akhirat, agar menjadi pribadi yang lebih baik membuka lembaran baru dan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Selamat tahun baru 1442 Hijriya. (*)



*Dari beberapa ssumber
Editor: Khairul


 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2020 SULUH RIAU , All Rights Reserved