Senin, 08 Maret 2021
Ini 5 Arahan Kapolda Riau dalam Rakor Antisipasi Karhutla Bersama Gubernur dan Kepala Daerah | Wabub Ajak ASN Berikan Pelayanan Prima Wujudkan Meranti Maju, Cerdas dan Bermartabat | Pengurus DPD PKS Pekanbaru Gelar Konsolidasi ke Dapil I dan VI | Digelar Secara Sederhana, HUT ke-4 SMSI Diisi Cerita Sukses Tokoh Pers | Bangun Sinergitas Majukan Daerah, Bupati H.M Adil Silaturahmi  ke LAM Riau | Fuad Santoso Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua KNPI Riau
 
Tokoh

Ketika Si "Jepun" Muallaf di Desa Alampanjang

Walaupun Indonesia sudah merdeka, namun sisa penjajahan Jepang maupun Belanda masih sangat terasa. Ini antara lain ditandai masih adanya salah seorang warga Jepang yang masuk ke Desa Alampanjang melalui seorang temanya dari suku Jawa bernama Natik. Saat itu mereka tinggal di rumah salah seorang warga, bernama Mintak.

Jepang yang masuk ke desa itu bertitel insinyur dengan pangkat Letnan, ia ahli senjata dan mesin. Diawal masuknya Jepang ke ke desa itu, mendapat perlawanan masyarakat. Sehingga dia sendiri tidak tahan dengan berbagai rongrongan masyarakat saat itu. Akhirnya, si Jepang itu takluk dan menyerahkan diri kepada masyarakat. Bahkan, orang Jepang itu tidak sekedar menyerah ia bersedia menganut agama Islam.

Para tokoh agama kampung lalu mekhitankan dan mensyhadatkan Jepang itu di salah satu rumah warga dan mengajarkan muallaf asal Jepang itu tentang Islam. Sejak saat itu si Jepang diberi nama Ahmad (Nama Islam). Aktivitas Ahmad itu tetap tidak berubah dari sebelum ia Islam, yaitu melatih perang warga di Alampanjang yang dilakukan setiap pagi dan sore. Ahmad dengan keahliannya juga mengajar warga membuat mesin dan senjata untuk empertahankan kemerdekaan.

Namun, karena teman-teman seangkatannya mengetahui si Jepang itu sudah berganti menjadi Ahmad, tidak lama berselang datanglah dua kompi Jepang dari Padang (Sumbar) menjemput warga Jepang yang telah diIslamkan tu. Tentara Jepang itu datang sekitar pukul 05.00 WIB. Satu Kompi masuk ke Alampanjang, satu Kompi lagi menunggu di Desa Padang Mutung di seberang Alampang.Saya masih ingat, saat itu saya masih sekolah tingkat SR, saya

bertemu dengan sejumlah tentara Jepun itu. Diantara mereka bertanya pada saya dengan bahasa Jepang, ďHutawa hari maska?, (adakah babi di sana?), katanya. Lalu saya jawab iye (tidak ada babi). Di tengah upaya penjemputan oleh tentara Jepang itu, salah seorang warga Desa Pulau Payung bernama Rasul, yang waktu itu dikenal banyak warga sebagai antek Belanda, memberi tahukan kepada tentara Jepang tersebut tempat persembunyian Ahmad tadi.

Lalu, untuk menyelamatkan Ahmad, beberapa temannya membawa Ahmad ke seberang. Saya melihat Ahmad itu dibawa, dan saat itu diikuti banyak warga Alampanjang yang yang sudah sangat bersimpati kepada Ahmad, karena dia telah dianggap sebagai guru. Mereka yang mengikuti Ahmad itu diantaranya almarhum Abdullah Karib, Siayib, Nabal dan Natik. Ahmad lalu disembunyikan di daerah Bencah
Lengkok untuk belajar menghapal dan mendalami tentang agama Islam.Peristiwa itu terjadi pada Hari itu Rabu. Sejak puluhan tahun

silam hingga sekarang, hari Rabu bagi warga Alampanjang boleh dibilang hari setengah santai, masyarakat ramai sehabis aktivitas harian mereka, karena esoknya Kamis hari pasar yang ada di Rumbio.

Hari itu pula naas bagi Rasul yang di cap antek Belanda tersebut, lalu warga yang sudah muak dengan Rasul, memukulinya ramai-ramai. Buntut peristiwa pemukulan itu, Kamis terjadi berkelahian antar Desa Alampanjang dengan warga Rumbio yang salah paham. Tidak sedikit warga di dua belah pihak jatuh korban, termasuk Rasul sendiri.

Saya saat itu sudah ikut membawa bambu runcing ke jalan raya menunggu tentara Jepang untuk perlawanan. Saat itu, sisa kekuatan Belanda masih kuat di beberapa wilayah. Bahkan, pada masa itu di kenegerian Rumbio, kekuasaan Belanda boleh dibilang mulai menguat kembali.

Peluang ini dimanfaatkan Rasul untuk balas dendam. Dia lalu membawa Belanda menangkap sejumlah warga Alampanjang. Namun situasi tidak lama berlangsung, susana terkendali karena terjadinya genjatan senjata (cease vire). Dan saat itu pula komisi tiga negara (KTN) masuk ke Daerah Kuok untuk berunding menyelesaikan masalah itu. (rl/*) (bersambung)
 
 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2020 SULUH RIAU , All Rights Reserved