Jalan-jalan di Kota 'Bertuah' Pekanbaru Kamis, 15/05/2025 | 08:52
Donal Devi Amdanata, Ph.D
KOTA "Bertuah" Pekanbaru memiliki banyak situs-situs sejarah dan religius di beberapa tempar yang tersebar. Tapi sejauh mana warganya mengetahui sejarah dan keunikan kota metropolitan ini.
JIKA kita bertanya kepada warga Kota Pekanbaru, seberapa banyak mereka mengenal siapa itu Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah?.
Mungkin tidak begitu banyak yang mengenalnya. Secara jujur, terkadang kita juga tidak bisa membedakan antara Sultan Syarif Kasim dengan Sultan Syarif Kasim II, padahal mereka berdua ini adalah sosok yang berbeda. Bahkan saya pribadi pernah melihat sebuah billboard yang menampilkan foto Sultan Syarif Hasim, namun keterangan di bawahnya tertulis Sultan Syarif Kasim II.
Layak di apresiasi terhadap apa yang dilakukan oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kota Pekanbaru yang mencoba mengusulkan supaya Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah menjadi Pahlawan Nasional yang berasal dari Riau.
Akan tetapi memang usaha tersebut masih belum membuahkan hasil. Namun demikian, apakah tidak ada yang bisa kita lakukan sebagai warga kota Pekanbaru untuk mengenang dan menghargai jasa Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah selama pemerintahannya?
Saya menggunakan aplikasi populer yang lazim digunakan saat ini, yaitu google map. Lalu saya mengetikkan nama “Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah”.
Hasilnya apa?
Nama itu hanya menunjukkan dua tempat, pertama adalah nama jembatan Siak IV dan lokasi makam Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah itu sendiri.
Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana mungkin orang di luar sana akan mengaminkan usulan menjadikan tokoh pendiri Kota Pekanbaru tersebut sebagai Pahlawan Nasional, sedangkan di negerinya sendiri pun tokoh tersebut tidak begitu dikenal.
Sorotan tulisan ini bukan masalah Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah saja, akan tetapi sebetulnya sikap masyarakat Riau itu sendiri, baik itu yang tunak lahir di Riau maupun sebagai pendatang, bagaimana seharusnya masyarakat Riau terlebih dahulu bisa mengenal orang-orang yang berjasa terhadap Provinsi Riau ini, juga termasuklah orang-orang yang berjasa di kabupaten-kabupaten yang ada di Riau.
Tentu alamat ini kita arahkan kepada pemangku pemerintahan, dan dalam hal ini, saya coba mempersempit dalam perspektif Kota Pekanbaru, sebagai Ibukota Provinsi Riau dan merupakan gerbang masuknya ke Provinsi Riau.
Pemerintah Kota Pekanbaru, sebagai pihak yang paling memiliki kewenangan dalam mengatur kota, memiliki banyak instrumen untuk mengenalkan jasa para pahlawan di Provinsi Riau ini.
Salah satu instrumen yang saya sorot adalah nama-nama jalan di Kota Pekanbaru. Misalnya jika kita menyusuri jalan H.R. Soebrantas atau dahulunya di kenal sebagai jalan raya Pekanbaru-Bangkinang, maka kita akan melihat nama-nama jalan yang sama sekali tidak menunjukkan identitas Provinsi Riau atau Kota Pekanbaru sebagai negeri melayu atau negeri yang diwariskan oleh Kesultanan Siak.
Sebutlah nama-nama jalan itu seperti Cipta Karya, Suka Karya, Swakarya, Bina Karya dan Kubang Raya dan lain sebagainya. Juga terdapat nama-nama jalan yang sama sekali tidak memiliki nilai historis dan terkesan sekenanya memberi nama.
Misal nama jalan Kutilang Sakti, Manyar Sakti, Merak Sakti, Merpati Sakti, Bangau Sakti, Balam Sakti, Garuda Sakti bahkan Naga Sakti.
Padahal jalan-jalan tersebut adalah jalan yang vital yang selalu di gunakan oleh masyarakat. Lebih parah adalah jalan Kubang Raya, Jalan Garuda Sakti dan Jalan Naga Sakti, nama-nama ini menghiasi nama jalan raya yang hampir sekelas dengan jalan Jenderal Sudirman atau Jalan Diponegoro.
Alangkah baiknya jika pihak yang berwenang mengganti nama-nama jalan tersebut menjadi nama-nama jalan yang lebih memiliki nilai historis, semisal nama tokoh-tokoh yang berjasa terhadap Provinsi Riau ini, salah satunya adalah Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah yang kita bahas di awal.
Jadi usul saya, setidaknya jalan-jalan vital itu menggunakan nama-nama yang mengandung nilai historis di Riau ini, semisal nama-nama para sultan, seperti nama-nama Sultan Kesultanan Siak, Kesultanan Indragiri, Kesultanan Rokan, Kesultanan Kunto Darusalam, Kesultanan Gunung Sahilan, Kesultanan Pelalawan bahkan Kesultanan Riau Lingga.
Juga dapat diusulkan nama-nama tokoh yang pernah berjasa dalam pembentukan Provinsi Riau, seperti H Abdul Hamid Yahya H. M. Amin, Tengku Kamarulzaman, Zaini Kunin, Ridwan Taher, H. Abdullah Hasan dan lain-lain.
Juga bisa diusulkan nama-nama pahlawan lokal yang ada di setiap kabupaten di Provinsi Riau, semisal Letnan M. Boya dari Indragiri Hilir, Bupati Tulus dari Indragiri Hulu dan lain sebagainya.
Setidaknya dengan nama-nama besar itu menghiasi jalan-jalan vital yang ada di Pekanbaru, akan membuat nama-nama itu dikenal oleh warga Riau umumnya dan warga Kota Pekanbaru pada khususnya. Setidaknya itu adalah harapan kita terhadap pemangku pemerintahan Kota Pekanbaru yang akan dilantik nanti.
Memang sebenarnya nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah telah diabadikan menjadi nama jembatan megah yang berdiri di kota Pekanbaru, namun demikian nama tersebut terdengar asing, masyarakat Kota Pekanbaru atau masyarakat Riau, bahkan terkadang media-media yang beroperasi di Riau, lebih sering menyebut jambatan tersebut sebagai Jembatan Siak IV.
Oleh sebab itu, perlulah kiranya pemerintah Kota Pekanbaru mulai mempertimbangkan tokoh-tokoh yang berjasa di Riau, Pekanbaru dan Kabupaten di Riau sebagai nama jalan, supaya masyarakat menjadi lebih familiar.
Apakah akan ada tantangan? Tentu saja ada, tetapi apakah mungkin ada yang menolak jika nama jalan tanpa makna tersebut di ganti dengan nama-nama tokoh-tokoh penting di Riau?.
Keberadaan nama-nama tersebut tentu akan menjadi bahan penasaran untuk generasi muda untuk mengetahui siapakah gerangan nama-nama yang menghiasi jalan menuju rumah atau menuju sekolah mereka. Misalnya, saya sewaktu berumur 7-11 tahun, alamat rumah dan sekolah saya adalah Jl. Letnan M. Boya Kota Tembilahan.
Memori kisah heroik Letnan M. Boya dalam menentang penjajah Belanda masih terus ingat di kepala saya hingga kini. Juga ketika misalnya saya berdomisili di Kota Rengat, nama Bupati Tulus terbentang melintasi pusat Kota Rengat, dan anak-anak Rengat pasti tahu bagaimana kisah perjuangan dan akhir hidup dari Bupati Tulus.
Memori-memori inilah yang kita harapkan dari generasi muda, sehingga secara tidak langsung generasi muda kota Pekanbaru dan Provinsi Riau ini mengenal dengan baik tokoh-tokoh penting tersebut.
Hinggalah misalnya tokoh-tokoh penting itu belum bisa disetujui menjadi pahlawan nasional, setidaknya mereka menjadi pahlawan di sanubari generasi muda. Hanya perlu langkah kecil bagi pimpinan kota Pekanbaru terpilih untuk mewujudkan lompatan besar tersebut. (***) _______ Penulis: Donal Devi Amdanata, Ph.D (Anggota Dunia Melayu Dunia Islam Provinsi Riau).