FWKLA Fokus Garap Lima Klaster Strategis Dorong Wujudkan Pekanbaru Kota Layak Anak Kamis, 14/05/2026 | 20:31
SULUHRIAU, Pekanbaru- Forum Wartawan Kota Layak Anak (FWKLA) Kota Pekanbaru serius mendorong Kota ini menjadi kota layak anak, terutama kategori KLA Utama.
Langkah itu ditunjukkan dengan menyusun program kerja jangka pe.dek, menengah dan jangka panjang yang akan ditindaklanjuti melalui pembagian tugas masing-masing anggota.
Ada lima klaster yang fokus digarap sesuai hasi rapar kerja Rabu (13/5/2026).
Pembagian klaster ini untuk memperkuat peran dan fungsi WKLA mendukung percepatan terwujudnya Kota Layak Anak (KLA) di Pekanbaru.
Lima klaster tersebut meliputi hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya; serta perlindungan khusus anak.
Pada Klaster I yang berfokus pada hak sipil dan kebebasan anak, tugas diberikan kepada Rima Ridarni, Khairul Amri dan Khairullah.
Klaster ini menitikberatkan pada pemenuhan identitas anak, seperti akta kelahiran dan Kartu Identitas Anak (KIA), serta kebebasan anak dalam memperoleh informasi.
Sementara itu, Klaster II yang berfokus pada lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif diisi oleh Dani Ardiansyah, Mickyal dan Adnan Buyung dengan perhatian pada pengasuhan anak, pencegahan perkawinan usia dini, serta perlindungan dari pola asuh yang tidak tepat.
Pada Klaster III yang menangani kesehatan dasar dan kesejahteraan anak, tugas diemban oleh Mustakim, Suwarno dan Sarwan Kelana. Klaster ini berfokus pada layanan kesehatan, pemenuhan gizi, serta lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak.
Selanjutnya, Klaster IV yang bergerak di bidang pendidikan dan pemanfaatan waktu luang dipercayakan kepada Yudi Waldi, Nikmat Risa dan Eka Kurniawati. Klaster ini mendorong terciptanya sekolah ramah anak serta penyediaan ruang publik yang mendukung kreativitas anak.
Adapun Klaster V yang menangani perlindungan khusus anak diisi oleh Hendri Zainuddin, Ridho dan Joko. Klaster ini berfokus pada penanganan anak dalam situasi darurat, anak berhadapan dengan hukum, serta korban kekerasan dan eksploitasi.
Ketua Dewan Etik FWKLA, Khairul Amri menegaskan bahwa pembagian klaster ini harus diikuti dengan tanggung jawab dan keseriusan dalam pelaksanaannya.
“Pembagian tugas ini bukan sekadar formalitas. Setiap klaster harus benar-benar bekerja dan memastikan isu perlindungan anak dikawal secara nyata, bukan hanya sebatas wacana,” tegasnya.
Dengan pembagian tugas yang terstruktur, FWKLA optimistis dapat memperkuat peran dalam mendorong Pekanbaru menjadi Kota Layak Anak yang berkelanjutan. (rls,src)