Hadir di Pekanbaru, Mensos Tegaskan Sekolah Rakyat Hanya untuk Anak Miskin, Titipan Dilarang Masuk Minggu, 14/06/2026 | 19:45
SULUHRIAU, Pekanbaru– Di balik tingginya angka partisipasi sekolah, masih ada anak-anak yang terpaksa meninggalkan bangku pendidikan karena tekanan ekonomi keluarga. Ada pula yang bahkan belum pernah merasakan suasana belajar di ruang kelas.
Untuk kelompok inilah Program Sekolah Rakyat disiapkan pemerintah. Program yang digagas Presiden Prabowo Subianto tersebut ditujukan sebagai jalur penyelamat bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem agar tetap memiliki kesempatan mengenyam pendidikan.
Pesan itu disampaikan Menteri Sosial RI, Syaifullah Yusuf, saat berdialog dengan orang tua calon peserta didik dalam kegiatan Open House Sekolah Rakyat di Sentra Abiseka Rumbai, Pekanbaru, Minggu (14/6/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Gus Ipul itu, Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan biasa, melainkan instrumen untuk memutus rantai kemiskinan yang selama ini membuat banyak anak kehilangan akses terhadap masa depan yang lebih baik.
"Program Sekolah Rakyat ini memang digagas langsung oleh Bapak Presiden untuk menampung anak-anak dari keluarga dengan kondisi paling rentan, baik secara sosial maupun ekonomi," kata Gus Ipul.
Ia menjelaskan, sasaran utama program tersebut adalah anak-anak yang belum pernah bersekolah, berisiko putus sekolah akibat faktor ekonomi, maupun mereka yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia pendidikan.
Karena menyasar kelompok yang sangat rentan, pemerintah menerapkan proses seleksi yang ketat berbasis data kesejahteraan masyarakat.
Tim pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) disebut akan melakukan verifikasi langsung ke lapangan guna memastikan calon peserta didik benar-benar berasal dari keluarga yang memenuhi kriteria.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul juga memberikan peringatan tegas terkait proses penerimaan siswa.
Ia menegaskan tidak boleh ada praktik titipan maupun pungutan dalam bentuk apa pun selama proses seleksi berlangsung.
"Saya tegaskan, tidak boleh ada praktik jual beli kursi, tidak boleh ada pungutan bayar-membayar, dan tidak boleh ada titipan dari pihak manapun. Menteri tidak boleh titip, gubernur tidak boleh titip, bupati maupun wali kota juga tidak boleh titip," tegasnya.
Menurutnya, seluruh proses penerimaan harus murni berdasarkan data kemiskinan yang valid agar program benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan.
Selain menyoroti proses penerimaan, Mensos juga menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang lebih humanis bagi para siswa Sekolah Rakyat.
Ia meminta para guru dan tenaga pendidik tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga membangun kepercayaan diri, karakter, dan semangat belajar anak-anak yang selama ini hidup dalam berbagai keterbatasan.
Pesan tersebut bukan tanpa alasan. Selama hampir satu tahun pemantauan terhadap proses pembelajaran yang telah berjalan, Kementerian Sosial mengklaim melihat perubahan signifikan pada peserta didik yang mengikuti program tersebut.
Menurut Gus Ipul, banyak siswa yang sebelumnya tertutup dan kurang percaya diri kini mulai berani tampil, lebih disiplin, dan memiliki semangat yang lebih besar untuk meraih cita-cita.
"Perkembangannya sangat luar biasa. Anak-anak didik kini tampil jauh lebih percaya diri, lebih disiplin, kondisi fisiknya lebih sehat, dan yang terpenting mereka memiliki daya juang yang lebih besar untuk mengejar cita-citanya," ujarnya.
Saat berada di Pekanbaru, Mensos juga menyaksikan langsung penampilan bakat dan kreativitas siswa dari Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 3 Pekanbaru dan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 31 Pekanbaru.
Bagi pemerintah, capaian tersebut menjadi gambaran bahwa intervensi pendidikan yang tepat dapat membuka kembali peluang masa depan bagi anak-anak yang sebelumnya berada dalam kondisi rentan.
Di tengah berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi masyarakat berpenghasilan rendah, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi jalan bagi anak-anak yang hampir kehilangan kesempatan belajar untuk kembali menata masa depannya melalui pendidikan. (src)