Asap Mulai Naik, Pejabat Riau Turun Langsung ke Rimbo Panjang Padamkan Karhutla Minggu, 23/08/2026 | 20:34
SULUHRIAU, Kampar— Ahad pagi udara di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, terasa panas dan sedikit pekat.
Di tengah medan yang sulit dijangkau kendaraan biasa, barisan pejabat tinggi Riau justru memilih turun langsung. Bukan hanya meninjau, mereka ikut memadamkan api.
Bupati Kampar H. Ahmad Yuzar berada satu barisan dengan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Dr. Agus Hadi Waluyo, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Kapolda Riau Irjen Pol Dr. Herry Heryawan, dan Danrem 031/WB Brigjen TNI Dr. Agustatius Sitepu. Bersama personel gabungan, mereka menyemprotkan air dan membuka akses untuk memutus titik api.
Kehadiran mereka bukan seremoni. Itu jawaban atas meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan di Riau, termasuk Kampar, yang belakangan sudah memunculkan kabut asap di beberapa wilayah.
Usai di lapangan, Bupati Ahmad Yuzar menyampaikan pesan yang sederhana tapi tegas.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat, jangan membakar lahan dalam bentuk apa pun. Mari jaga daerah kita bersama agar terhindar dari kebakaran," ujarnya.
Ia menjelaskan dampaknya tidak main-main. Lingkungan rusak, kesehatan terganggu, aktivitas sekolah dan ekonomi ikut tersendat. Untuk mempercepat penanganan, Pemkab Kampar sudah menurunkan alat berat guna menembus lokasi yang tidak bisa dilalui kendaraan biasa.
"Yang kita lihat sekarang sudah ada kabut yang menyelimuti. Kalau dibiarkan, ini akan berdampak luas. Karena itu pencegahan harus jadi prioritas utama," kata Ahmad Yuzar.
Menurutnya, memadamkan api tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, TNI, Polri, atau petugas pemadam. Kesadaran warga memegang peran paling besar untuk mencegah munculnya titik api baru.
Dari sisi keamanan, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menyebut patroli udara terus dilakukan. Tujuannya memastikan setiap titik api terpantau dan segera ditindak di lapangan.
"Dari udara kita bisa lihat di mana titiknya. Tapi yang penting adalah seberapa cepat informasi itu diterjemahkan jadi tindakan. Kami turun langsung supaya semua sumber daya bergerak bersama," jelasnya.
Ia menekankan prinsip cepat datang, cepat padam, dan memastikan tidak ada api yang menyala ulang. Lahan gambut dan semak di Riau sangat rentan, sehingga keterlambatan sedikit saja bisa membuat api meluas.
Senada, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo menegaskan tidak ada sekat antarinstansi saat menghadapi Karhutla.
"TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, perusahaan, masyarakat, semua harus satu komando. Ancaman ini untuk kita semua," ucapnya.
Ia juga mengapresiasi kerja personel di garis depan yang harus berhadapan dengan panas, asap, dan medan berat. Kehadiran pimpinan di lokasi, katanya, untuk memastikan dukungan logistik dan komando berjalan maksimal sampai api benar-benar padam.
Peninjauan dan pemadaman di Rimbo Panjang menjadi bukti nyata bahwa penanganan Karhutla tahun ini diambil serius sejak dini. Kolaborasi antara pusat, provinsi, kabupaten, dan masyarakat diharapkan mampu menekan perluasan kebakaran.
Pemerintah mengajak warga meningkatkan kewaspadaan. Menjaga lingkungan, tidak membuka lahan dengan cara dibakar, dan segera melapor jika melihat titik api.
Pesan penutup dari Bupati Kampar menggema di akhir kegiatan: Jangan Bakar Lahan. Cegah Karhutla. Selamatkan Lingkungan dan Lindungi Masa Depan Generasi Kita. (hpk)