Rabu, 05 Oktober 2022
Pegawai Kemenag Bisa Buka Tambungan Tanpa Setoran Awal & Tabung Haji untuk Anak dari BSI | Warga Demo ke Kantor Camat Tuah Madani, Minta Cabut SK Ketua RT | Seorang Bendahara Camat di Pemko Medan Ditembak OTK | Asosiasi Batik Kuansing Asah Kreativitas Warga Binaan Lapas Kelas IIB Teluk Kuantan | Dipimpin Kapolda, Forkopimda Riau Gelar Doa Bersama dan Taburan Bunga untuk Korban Tragedi Kanjuruha | Zulmansyah Ingatkan Peserta UKW dari Daerah Harus Ada Rekom PWI Kabupaten/Kota
 
Pendidikan
Dewi Angkat Nama Bengkalis atas Olahan Biji Getah Jadi Kerupuk dan Mesin Pemecah

Pendidikan - - Minggu, 19/11/2017 - 10:44:40 WIB
Dewi Melinda, S.Pd,
TERKAIT:
   
 

SULUHRIAU, Bengkalis- Karet alias getah dengan nama ilmiah hevea brasilinsis memiliki banyak manfaat untuk ekonomis. Namun, tidak semua orang tahu nilai ekonomisnya tidak hanya pada 'susu' batanya (getah).

Bagi masyarakat di Sumatera, terkhusus di Provinsi Riau, lebih khusus lagi Kabupaten Bengkalis sebagian punya kebun karet dan bahkan banyak juga bahkan berprofesi sebagai penakek/penyadap karet.

Karet sempat mengalami kejayaaan, namun kini harga getah tidak lagi mempesona. Meskipun demikian, tidak menyurutkan petani menakek batang getah setiap pagi. Yang penting  bagi petani, “susu” dari batang getah terus mengalir dan menetes.

Ternyata tidak hanya persoalan harga, petani akan menghadapi waktu libur tetap, sehingga harus menggantungkan pisau sadap di batang karet. Atas fenomena tersebut, seorang perempuan asal Bengkalis Dewi Melinda, S.Pd, terketuk untuk mencarikan solusi terbaik, supaya petani tidak terkutat dengan susu getah saja. Sebab, tidak hanya “susu”-nya saja bisa dimanfaatkan, ada bagian lain yang selama ini terabaikan, bila diolah mendatangkan rupiah.

Yakni, biji getah alias biji karet, atau sebagian masyarakat Bengkalis menyebutnya buah para. Berawal ketika datang ke kebun karet milik orang tuanya, Putri dari pasangan Janawiyanto alias Heri dan Iis Sugiarti alias Tutik ini, menyaksikan biji getah berserakan, tidak ada yang pedulli. Kalaupun ada yang mengutip, hanya segelintir saja, itupun sebagai bibit cantuman (getah kawin).

Lantas lulusan Jurusan Sejarah, FKIP Universitas Riau ini, berpikir menjadikan biji getah bernilai ekonomis. Bersama sang ibu, Dewi mengutip biji getah ini, untuk diolah  menjadi panganan atau cemilan, yang kelak bernilai ekonomis.

“Awalnya, bingung mau diolah jadi apa. Lantas muncul ide, membuat kerupuk biji getah (buah para),” ujar guru pelajaran Sejarah dan Pembimbing UMKM KIR Al Banna, MAN 1 Bengkalis ini.

Dengan tekad dan kemauan yang kuat untuk mengolah biji getah itu menjadi bahan baku panganan. Untuk mengolah biji getah ini, Dewi mengajak anak didiknya yang tergabung dalam UMKM KIR Al Banna MAN 1 Bengkalis, sebagai pelajaran tambahan alias ekstra kurikuler. Mulai dari membuka cangkang, memisahkan dagingnya dan merebus.

Setelah mengetahui rasa dan kelezatan kerupuk biji getah yang diolah, membuat anak pertama dari dua bersaudara ini semakin tertantang menambah varian lainnya dari biji getah ini. Mulai dari sambal balado biji getah, coklat biji getah, biskuit biji getah bahkan pakan ternak ayam dan ikan.

Tidak sampai di situ, agar temuannya diterima masyarakat dan memenuhi strandar kesehatan maupun halal. Dewi mau tidak tinggal diam, dara Desa Berancah, Kecamatan Bantan ini, terus putar otak, agar temuannya bisa dikonsumsi khalayak ramai.

Lantas mendaftarkan panganan dari biji getah kepada pihak terkait. “Alhamdulillah, sudah dinyatakan lulus uji Puskesmas, sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam waktu dekat BPOM akan segera turun ke MAN 1 Bengkalis,” tandas Dewi.

Agar temuannya dalam mengolah panganan biji getah semakin dikenal, pada bulan Agustus 2017 Dewi bersama anak muridnya mengikuti lomba inovasi yang ditaja Balitbang Bengkalis.
Berkat kesungguhannya, di ajang itu Dewi dengan produk DewRA Paragu memperoleh nominasi 5 besar sebagai guru pembimbing siswa dalam inovasi.

Berbekal nominasi lima besar itu, pada 11 November 2017, Dewi dibantu sang mama Iis Sugiarti alias Tutik, ikut perlombanaan inovasi pengelolaan panganan berbahan baku ungulan lokal Riau di Balitbang Provinsi Riau.

Dari pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB, di hadapan sang juri, Dewi bersama sang mama, memperagakan pembuatan cemilan dengan nama DewRa biskuit Paragu. Makna dari DewRa adalah Dewi mengolah buah para (biji getah), Paragu gabung dari buah para dan sagu.

Berkat kesabaran, mengolah biji getah ini, Sabtu 11 November 2017, DewRa mampu menyisihkan para inovator pangan se-Provinsi Riau bahkan dari Kota Solo, Jawa Tengah. DewRa berhasil meraih juara kedua, sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Bengkalis di kancah provinsi.

“Awalnya tidak percaya, karena peserta dari seluruh Provinsi Riau bahkan dari Solo Jawa Tengah. Juara satu dari kueh kering ikan patin dari Bagian Gizi Pekanbaru. Tapi nyatanya Dewi dinyatakan sebagai pemenang juara dua pada lomba bergengsi tingkat Provinsi Riau,” ungkapnya.

Kerja kerasnya semakin memperkenalkan produknya. Terbukti, sejak saat itu, beberapa instansi memesan produk DewRa untuk dipasarkan. Mulai dari Pemerintah Provinsi Riau, Pemerintah Kabupaten Kampar dan Kadin Provinsi Riau sudah memesan. Rencananya, pihak Kadin Provinsi Riau akan memasarkan DewRa di Bandara Sultan Syarif Kasim di Pekanbaru. “Alhamdulillah, produk panganan dari biji getah mulai gemari,” katanya.

Saat ini, Dewi dan kawan-kawan menampung biji getah dari petani dengan harga Rp3.000 per kilogram untuk bahan baku. Dakui saat ini, biji getah yang dibeli dari petani belum banyak, karena masih terbentur modal.

Untuk memudahkan kerja dalam mengolah biji getah, Dewi bersama tiga anak didiknya, M Razip, Surya Maulana dan Sahrudin menciptakan mesin pemecah biji getah. Memanfatkan Sanyo, mesin buatannya sudah sangat membantu dalam memecah biji getah. Nama mesin temuannya, dilebeli Mrs UD. Dewlateks, merupkan gabungnan nama dari M Razip, Surya Udin dan Dewi temuan biji getah. [Rls, Editor: Jandri]





 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Kode Etik Internal Perusahaan Pers |Redaksi
Copyright 2012-2021 SULUH RIAU , All Rights Reserved