Senin, 26 Juli 2021
Wako Pekanbaru Keluarkan Imbauan PNS Sumbang Gaji untuk Bantu Warga Terdampak PPKM Level 4 | Senang dengan Riau, Investor Asal New Zealand Ingin Berinvestasi di "Bumi Lancang Kuning" | Agung Nugroho Terpilih Aklamasi Nahkodai IMI Riau Periode Ketiga | Terapkan PPKM Level 4, Lima Pintu Masuk Kota Pekanbaru Disekat Hingga 8 Agustus | Presiden Jokowi Putuskan Lanjutkan Penerapan PPKM Level 4 hingga 2 Agustus 2021 | Sempat Padam, Karhutla di Kubu Rohil Muncul Lagi, Petugas Kembali Lakukan Pemadaman
 
Internasional
Jenderal Myanmar Dicekal AS Atas Tuduhan Pembasmian Etnis Rohingya

Internasional - - Sabtu, 23/12/2017 - 09:24:13 WIB

SULUHRIAU, Washington - AS menjatuhkan sanksi pencekalan kepada seorang jenderal Myanmar yang dituduh memimpin operasi pembersihan etnis terhadap orang-orang MuslimRohingya.

Jenderal Maung Maung Soe termasuk di antara sejumlah tokoh dunia yang masuk daftar hitam AS untuk tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi.

Krisis di Myanmar sejak Agustus, telah mengakibatkan lebih dari 650.000 orang Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh.

Dalam sebuah pernyataan, Departemen Keuangan AS mengatakan Maung Maung Soe "memimpin operasi militer di Negara Bagian Rakhine di Myanmar yang melibatkan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas terhadap warga sipil Rohingya".

Bulan lalu dia dipindahkan dari posisinya, namun Kementerian Pertahanan Myanmar tidak memberikan alasannya.

Pekan ini, penyidik hak asasi manusia PBB di Myanmar dilarang memasuki negara tersebut.



Pemerintah mengatakan bahwa mereka melarang Penyidik PBB Yanghee Lee karena dia "tidak imparsial dan tidak objektif", namun Lee mengatakan bahwa keputusan tersebut menyiratkan terjadinya "sesuatu yang sangat mengerikan" di Rakhine.

Militer Myanmar mengatakan bahwa mereka hanya memerangi militan Rohingya, ARSA, dan menyangkal telah menyasar warga sipil.

Eksodus warga Rohingya dimulai ketika tentara Myanmar melancarkan operasi melawan pemberontakan di Negara Bagian Rakhine utara setelah pejuang pemberontak menyerang pos polisi dan membunuh anggota pasukan keamanan.

Banyak di antara mereka yang berhasil mencapai Bangladesh - bahkan dengan peluru di tubuh atau luka lainnya - mengatakan bahwa tentara Myanmar yang didukung oleh warga Buddha setempat membakar desa mereka dan menyerang dan membunuh warga sipil.

PBB menyebut serangan militer di Rakhine sebagai "contoh buku teks tentang pembersihan etnik".

Siapa lagi yang dicekal AS?
Pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan mereka menjatuhkan sanksi terhadap 52 individu dan entitas, antara lain:

Ahli bedah Pakistan Mukhtar Hamid Shah, yang dituduh menculik dan mengambil organ-organ tubuh para buruh miskin

Mantan Presiden Gambia Yahya Jammeh, yang mundur Januari lalu setelah 22 tahun berkuasa
Gulnara Karimova, putri mantan presiden Uzbekistan, yang oleh AS dituduh "memimpin sindikat kejahatan terorganisir yang kuat". Dia saat ini berada dalam tahanan
Orang kaya Israel Dan Gertler, yang oleh AS dituduh mengumpulkan kekayaan melimpah melalui "pertambangan gelap dan korup serta perdagangan minyak tak sah di Republik Demokratik Kongo".

Sanksi-sanksi yang diterapkan antara lain berupa pencekalan, pembekukan aset individu dan entitas dan melarang warga AS melakukan bisnis dengan mereka.

Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin mengatakan bahwa langkah ini diambil untuk mengirim pesan bahwa ada "harga yang tinggi yang harus dibayar untuk kecurangan dan kejahatan mereka".

Sumber: Detik.com | Editor: Jandri




 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2020 SULUH RIAU , All Rights Reserved