Minggu, 25 Februari 2024
Diharap Jadi Destinasi Wisata, Pusat Kuliner Kelapa Gading Tembilahan Diduga Jadi Tempat Maksiat | Dihadiri Kapolres, KPU Kampar Lakukan Persiapan Rapat Pleno Pemilu 2024 Tingkat Kabupaten | Lukman Edy Usul PKB Urungkan Niat Angket, Singgung Suara Cak Imin Kecil | Polres Kampar Beri Santunan dan Sembako pada Keluarga KPPS yang Meninggal di Desa Pangkalan Serik | Tahap I Sebanyak 200.601 Jamaah Lunasi BIPIH, Tahap II Dibuka 13-26 Maret | Diawasi Satgas Penyelamat Suara Rakyat, Panwascam dan PPK Diminta Tak Main-main
 
Tokoh

Ilmuwan, Teknokrat dan Birokrat

Suluhriau.com - B.J Habibie, Ilmuwan, teknokrat dan birokrat paling berpengaruh di Indonesia. Bacharuddin Jusuf Habibie  adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. 

Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Jabatannya digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 oleh MPR hasil Pemilu 1999. 

Dengan menjabat selama 2 bulan dan 7 hari sebagai wakil presiden, dan 1 tahun dan 5 bulan sebagai presiden, Habibie merupakan Wakil Presiden dan juga Presiden Indonesia dengan masa jabatan terpendek. 

Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936; umur 74 tahun.Habibie pernah bekerja di Messerschmitt-Bolkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, sehingga mencapai puncak karier sebagai seorang wakil presiden bidang teknologi. 

Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Suharto. Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998. Sebelum menjabat Presiden (21 Mei 1998 - 20 Oktober 1999), B.J. Habibie adalah Wakil Presiden (14 Maret 1998 - 21 Mei 1998) dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto. 

Ia diangkat menjadi ketua umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), pada masa jabatannya sebagai menteri. Di bidang ekonomi, ia berhasil memotong nilai tukar rupiah terhadap dollar masih berkisar antara Rp 10.000 - Rp 15.000. 

Namun pada akhir pemerintahannya, terutama setelah pertanggungjawabannya ditolak MPR, nilai tukar rupiah meroket naik pada level Rp6.500 per dolar AS nilai yang tidak akan pernah dicapai lagi di era pemerintahan selanjutnya. Selain itu, ia juga memulai menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi perekonomian. (Dari berbagai sumber,Red)
 
 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Kode Etik Internal Perusahaan Pers |Redaksi
Copyright 2012-2021 SULUH RIAU , All Rights Reserved