☰ Religi Petuah Ramadhan DR H Ahmad Supardi Puasa Sebagai Momentum Menunda Kesenangan Rabu, 13/03/2024 | 11:41
DR H Ahmad Supardi Hasibuan. M.A
BULAN Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam Al-Hadits adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang dirindukan kehadirannya oleh setiap insan yang mengetahui apa-apa yang terkandung di dalamnya.
Bulan di mana setiap kebajikan dilipatgandakan berkali-kali lipat, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya sama dengan seribu bulan. Keterangan ini sejalan dengan penegasan Nabi Muhammad saw dalam sebuah sabdanya yang terkenal:
Qad jâ’akum Ramadhâna syahrun mubârakun iftaradha Allâhu ‘alaikum shiyâmahu tuftahu fîhi abwâbu l-jannati wa yughlaqu fîhi abwâbu l-jahim wa tughallu fihi l-syayâtînu fîhi lailatun khairun min alfi syahrin.
Sesungguhnya telah datang padamu bulan yang penuh berkah, di mana Allah mewajibkan kamu berpuasa, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan. Padanya ada suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan (H.R. Ahmad dari Abu Hurairah).
Satu malam yang nilainya sama atau bahkan melebihi nilainya dari seribu bulan itu adalah malam Lailatul Qadar. Nabi saw menggambarkan beribadah semalam suntuk dengan beri’tikaf di masjid, shalat sunnat lebih banyak, berzikir, berdo’a dan membaca al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar.
Hal itu sama atau bahkan melebihi pahalanya dari beribadah selama seribu bulan. Sebagaimana dise- butkan dalam al-Qur’an: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan†(Q.S. al-Qadar: 3).
Oleh karena itulah Nabi selalu berpesan kepada para sahabat-sahabatnya, “Intai-intailah di malam- malam ganjil sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,†mudah-mudahan anda akan bertemu dengan malam yang mulia itu.
Dalam Hadits lain Nabi menyatakan bahwa, barang siapa yang melakukan amalan sunnat akan dilipatgandakan pahalanya bagaikan melakukan amalan wajib, dan barang siapa yang melakukan amalan wajib pahalanya dilipatgandakan tujuh puluh kali lipat jika dibandingkan dengan amalan di luar Ramadhan.
Bahkan diam dan tidurnya saja orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala, sedangkan berzikir dan beribadah sudah barang tentu akan lebih besar lagi pahalanya.
Keutamaan Ramadhan Ramadhan memang memiliki keutamaan apabila dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya dan orang-orang yang melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan akan diberikan Allah swt keuta- maan yang itu tidak didapatkan oleh ummat sebe- lum Muhammad saw, sebagaimana disebutkan dalam Hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah r.a. Nabi saw bersabda: U’thiyat ummatiy khamsa khishâlin fiy Ramadhâna lam tu’thahâ ummatun qablahum, khulûfun fami sh-hsaimi uthyabu ‘inda Allâhi min rîhi l-miski, wa taghtaghfiru lahum al-malâikatu hattâ yufthirû, wa yuzayyinu Allâhu ‘Azza wa Jalla kullu yaumin jannatahu tsumma yaqûlu yûsyiku ‘ibâdiy al-shâlihûna an-yulqû ‘anhum al- ma’ûnatu, wa l-adzâ, wa yashîrû ilaiki, wa yushaffidu fîhi maradatu al-syayâtîni falâ yakhlushû ilâ mâ kânû yakhlushûna ilaihi fiy ghairihi wa yaghfaru lahum fiy âkhiri lailatin qîla yâ Rasulallahi ahiya lailatu l-qadri qâla: lâ walakinna l-’âmilu innamâ yuwaffâ ajrahu idzâ qadhâ ‘amaluhu.
Ummatku diberi lima keistimewaan pada bulan Ramadhan, yang belum pernah diberikan kepada ummat- ummat sebelum mereka, yaitu
(1) Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih disukai oleh Allah daripada minyak kasturi.
(2) Ikan-ikan akan memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka.
(3) Allah SWT menghiasi syurgaNya setiap hari dan berfirman kepadanya,“Saatnya hampir tiba bagi hamba-hambaKu yang shaleh yang tabah dalam ujian, untuk melepaskan segala beban kesukaran (di dunia) dan akan mendatangi- mu.â€
(4) Syetan-syetan jahat akan dibelenggu sehingga tidak dapat bebas menggoda pada bulan-bulan lainnya.
(5) Pada malam terakhir bulan tersebut, mereka akan diampuni. Ada orang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah malam itu malam Lailatul Qadar?†Beliau bersabda, “Bukan, tetapi seorang pekerja akan diberikan upahnya jika telah selesai dari pekerjaannya.(H.R. Ahmad).
Oleh karena itulah sangat tepat apabila dikata- kan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh keutamaan. Di sini pulalah dikatakan kehadiran bulan Ramadhan adalah sesuatu yang ditunggu- tunggu oleh Nabi dan para Sahabat pada masanya dan tentunya oleh seluruh ummat Islam.
Tiga Sikap Hadapi Ramadhan Namun sangat disayangkan, akhir-akhir ini, setiap kali bulan Ramadhan tiba ternyata ada tiga sikap kaum muslimin dalam menghadapinya.
Sikap pertama ialah orang-orang yang bergembira dengan datangnya bulan suci Ramadhan tersebut. Sebab, dia bersikap seakan-akan dia mengetahui dengan pasti bahwa bulan Ramadhan datang mem- bawa rahmat dan berkah. Memang sudah sewajar- nya ummat Islam bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan.
Sebab, Hadits Nabi menyatakan, “Sekiranya ummatku mengetahui apa yang terkandung dalam bulan Ramadhan, maka mereka akan menginginkan sepanjang tahun adalah Ramadhan.â€
Sikap kedua adalah yang menggerutu dengan datangnya bulan Ramadhan. Sebab, dia merasa kedatangan bulan Ramadhan akan menghambat hawa nafsu dan kepentingannya. Dia tidak sadar bahwa Ramadhan datang untuk memberikan ke- baikan kepada dirinya, menambah kesehatan pada dirinya, membawa keberkahan yang tiada tara.
Maka- nya kita tidak perlu heran, kenapa misalnya, para sahabat Nabi Muhammad saw begitu bergembira dengan datangnya bulan suci Ramadhan dan sangat berduka cita, menangis tersedu-sedu bagaikan men- dapat musibah besar, ketika ditinggalkan oleh bulan suci Ramadhan tersebut.
Ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami betul manfaat dari melak- sanakan ibadah Ramdhan itu. Sikap ketiga adalah orang yang tidak peduli sama sekali dengan datangnya bulan Ramadhan.
Bagi orang seperti ini, ada atau tidaknya bulan Ramdhan, sama saja. Tidak ada yang berubah dalam dirinya.
Satu-satunya yang berubah adalah ketidakber- ubahan itu sendiri. Bagi orang yang berkategori manusia pada sikap ketiga ini, dalam terminologi Imam Al-Gazali disebut sebagai, “Orang yang tidak tahu, dan tidak tahu kalau dia memang tidak tahu. Inilah orang bodoh. Jauhilah dia!†Orang seperti ini, ibarat kita berdiam di pinggir api, meski tak sempat terbakar tetapi sempat terkena panasnya.
Faedah Puasa
Ibadah puasa ramadhan memberikan macam- macam faedah bagi orang-orang yang melaksana- kannya secara tulus karena Allah. Sebagian dari faedah-faedah tersebut anatara lain:
Pertama, melemahkan syahwat, menahan hawa nafsu, menunda kesenangan. Karena jika perut manusia itu selamanya dipenuhi dengan makanan, syahwatnya semakin tinggi.
Namun bila perutnya dilatih dengan dikosongkan pada siang harinya, syahwat itu semakin menurun sekaligus nafsunya akan melemah untuk melakukan kejelekan yang keluar dari batas. Jiwa yang memerturutkan hawa nafsunya adalah jiwa yang lemah. Karena itu, Rasulullah benar ketika mengatakan, “Orang kuat itu bukanlah orang yang mampu menjatuhkan lawannya di medan laga, tetapi orang yang mampu mengendalikan emosi ketika dia marah.â€
Kedua, menanamkan rasa santun, smpati dan empati terhadap fakir miskin. Apabila manusia telah merasakan lapar pada sebahagian waktu, ia akan ingat terhadap rasa lapar sepanjang waktu. Lapar sepanjang waktu biasa dialami oleh orang- orang fakir dan miskin.
Mereka selalu dalam posisi kelaparan. Sikap empati pada sesama manusia yang tak beruntung secara materi, akan memberikan efek moral pada timbulnya rasa peduli dan solidaritas sosial antarsesama. Kasih sayang di dalam hati setiap hamba tidak berkembang kecuali disirami dengan sikap peduli dan kasih sayang. Kasih sa- yang yang dicurahkan secara tulus tanpa pamrih, akan memerkuat ukhuwah di tengah umat.
Ketiga, membersihkan tubuh dan pencernaan dari sisa-sisa makanan yang kotor. Bahkan, puasa dapat menyembuhkan segala penyakit yang diaki- batkan oleh kotoran lambung. Nabi saw menyata- kan dalam salah satu sabdanya yang terkenal: “Ber- puasalah kamu supaya kamu sehat.â€
Itu berarti, puasa meningkatkan kesadaran tentang keimanan dan kesehatan. Iman yang teguh akan memberikan efek positif pada kesehatan jiwa. Begitu pula seba- liknya, jiwa yang sehat akan meningkatkan kesa- daran keimanan yang kian teguh.
Keempat, memperkuat rasa sabar dan memiliki sifat bijaksana. Kedua sifat tersebut dapat menjauh- kan dari rasa marah karena puasa adalah separuh dari kesabaran, sedangkan kesabaran adalah sapa- ruh dari keimanan.
Setiap yang berpuasa, langsung maupun tak langsung, pasti ditumbuh dari kesa- daran akan iman kepada Allah. Iman akan mem- bimbing orang itu untuk bersikap sabar.
Kelima, menjadi perisai dari siksa api neraka, artinya orang yang berpuasa akan terhindar dari siksa api neraka.
Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad saw: “Dari Mu’az bin Jabal, Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Tidakkah Kami tun- jukan kepadamu terhadap pintu-pintu kebaikan? ’Saya menjawab, ‘Benar ya Rasulullah.’ Rasulullah saw menjawab, ‘Puasa itu merupakan perisai dari siksa api neraka’.â€
Melihat betapa penting dan besaranya manfaat bagi yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, maka pantas dan wajar bagi kita umat Islam, menjelang datangnya bulan Ramadhan, mengucapkan “Marhaban ya Ramadhanâ€, artinya: Selamat Datang hai bulan Ramadhan. Ucapan ini sebagai pertanda bahwa kedatangan bulan Ramdhan bagaikan tamu agung yang mampir di rumah kita, di mana kita bukan hanya bangga tetapi mendapat kehormatan dari sang tamu agung nan mulia itu.
Kehadiran “tamu,†dalam terminologi sosio- logis, di samping membawa berbagai rahmat, ia juga menjadi ajang interaksi sosial yang bernilai tinggi. Begitu pula dengan kedatangan bulan suci Ramadhan sebagai “tamu†bagi umat Islam adalah ajang “silaturrahmi†(membangun kasih sayang) antara seorang hamba dengan Tuhannya, pada saat yang sama, menjadi ajang “silaturrahmi†(mem- bangun kasih sayang) antara seorang hamba Allah dengan hamba Allah lainnya.
Silaturrahmi antara seorang hamba dengan Tuhannya menjadi kian kontekstual manakala di- benturkan dengan realitas sosial di sekitarnya. Tan- pa itu, silatrurrahmi kita dengan Allah menjadi ham- bar.
Nilai silaturrahmi kita dengan Allah menjadi kian tinggi harganya kalau silaturrahmi kita dengan sesama hamba Allah pun kian tinggi pula. Mudah- mudahan seperti itulah cara kita memaknai ibadah Ramadhan kita pada setiap kali ia datang. Wallahu a’lam.
_______ Penulis: Dr. H. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro)