Trump Perpanjang Gencatan AS-Iran Beberapa Jam Sebelum Berakhir, Iran: Tak Ada Artinya, Siap Perang Lagi Rabu, 22/04/2026 | 09:51
Foto AFP
SULUHRIAU- Presiden Donald Trump memperpanjang gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada Senin (21/4/2026) malam waktu AS dengan dalih ingin memberi lebih banyak waktu bagi proses perundingan.
Keputusan Trump ini keluar setelah dirinya mengancam akan menyerang Iran habis-habisan jika Teheran kekeh enggan melanjutkan perundingan di Islamabad setelah gencatan dua pekan berakhir.
Pengumuman ini juga keluar hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata Iran-AS sejak 8 April berakhir hari ini, Rabu (22/4/2026).
Trump memperpanjang gencatan senjata sampai waktu yang belum ditentukan, seraya menyebut keputusan ini juga datang atas permintaan dari Pakistan selaku mediator.
Trump menekankan perlu memberi waktu kepada kepemimpinan Iran yang ia klaim sedang "terpecah" untuk menyusun sebuah proposal perundingan.
"Saya telah... memerintahkan Militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu. Karena itu, saya akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka (Iran) diajukan," tulis Trump di media sosial seperti dikutip AFP.
Menjelang intervensi Trump di saat-saat terakhir, belum jelas kapan tepatnya gencatan senjata semula akan berakhir. Pakistan menyatakan masa itu akan habis pada Selasa pukul 23.50 GMT.
Nasib perundingan damai yang dimediasi Pakistan pun menggantung setelah pengumuman Trump tersebut.
Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Wakil Presiden JD Vance tidak jadi berangkat ke Pakistan pada Selasa untuk menghadiri perundingan sebagaimana rencana sebelumnya, sambil menunggu proposal dari Iran.
"Setiap pembaruan lebih lanjut mengenai pertemuan tatap muka akan diumumkan oleh Gedung Putih," kata pejabat itu.
Di Islamabad, polisi dan tentara bersenjata lengkap mengamankan kawasan pemerintahan kota pada Selasa. Area itu nyaris ditutup total, meski belum ada jadwal pasti pertemuan Iran-AS.
Sementara itu, Iran merespons keputusan mendadak Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memperpanjang gencatan senjata pada Selasa (21/4/2026) malam hanya beberapa jam sebelum berakhir Rabu (22/4/2026).
Penasihat senior ketua parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, mengatakan perpanjangan itu tak ada artinya bagi Iran. "Ini tidak berarti apa-apa," kata Mohammadi pada Selasa (21/4/2026), dikutip CNN.
Dia lalu menyebut pihak yang kalah tak bisa mendikte persyaratan dalam gencatan.
Mohammadi lantas menuduh Trump memperpanjang gencatan senjata sebagai "taktik untuk mengulur waktu demi serangan mendadak."
Lebih lanjut, dia menyebut blokade AS ke kapal berbendera Iran yang menuju atau dari pelabuhan negara itu sama saja dengan "pemboman."
Sementara itu, juru bicara Markas Besar Pusat Militer Iran Khatam Al Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan pasukan akan menyerang target yang sudah ditentukan jika AS menggempur lebih dulu.
"Pasukan kita yang cakap dan kuat sudah lama berada dalam keadaan siaga 100 persen dan siap serta siaga untuk bertindak," kata Zolfaghari, dikutip Al Jazeera.
Dia lalu berujar, "[Jika terjadi] agresi dan tindakan apapun terhadap Republik Islam Iran, pasukan akan segera dan dengan dahsyat menyerang target yang sudah ditentukan."
Ultimatum militer Iran itu muncul setelah Trump mengumumkan untuk memperpanjang gencatan senjata sampai batas waktu yang belum ditentukan pada Senin.
AS dan Iran sebelumnya mengumumkan gencatan senjata dua pekan pada 8 April. Artinya, batas waktu kesepakatan ini hanya sampai 22 April.
Kedua negara tersebut mulanya dijadwalkan menggelar putaran kedua negosiasi di pekan ini, sebelum masa gencatan habis.
Namun, perundingan kedua belum terlaksana. Saat masa gencatan tinggal sehari, Iran belum mengonfirmasi kehadiran dalam negosiasi, sementara delegasi AS disebut membatalkan keberangkatan ke Pakistan. (***)