PWI Sayangkan Sikap Plt Sekda Rohil tak Berbesar Hati Dikritik
Jumat, 05 Agustus 2016 - 09:12:52 WIB
|
Ketua PWI Rohil, Jaka Abdillah
|
PEKANBARU, Suluhriau- Ketua PWI Rohil Jaka Abdillah, SA,g menyayangkan sikap Plt Sekda Rohil Surya Arfan, yang tidak berbesar hati menerima kritik konstruktif untuk pembangunan daerah.
Hal itu ditegaskan Jaka sehubungan tanggapan-tanggapan Plt Sekda ini terhadap pemberitaan media cetak, elektrojin dan online terkait pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Rohil banyak yang rusak.
Ini juga tidak lepas dari Kekesalan masyarakat yang menamcapkan plang kayu dengan tulisan berbau sindiran, lalu ditulis sejumlah media sehingga memancing kemarahan Plt Sekda.
Apapun alasannya kata Jaka, untuk kritik membangun baik datang dari masyarakat atau media sebagai salah kontrol sosial, mestinya pejabat daerah menerima dengan lapang dada.
"Pak Plt Sekda jangan anti kritik, sebagai pejabat tinggi dibidang birokrasi pemerintahan, harus bersikap negarawan apabila ada kritikan, apalagi soal infrastruktur. Berbesar hati sajalah dan lapang dada," katanya, Kamis (4/8/2016).
Dikatakannya, tanggapan dari Plt Sekda ini bukannya akan membuat polemik itu berakhir, tetapi akan berkembang dengan berbagai respon yang muncul.
"Plt Sekda yang seharusnya tidak perlu menanggapi berlebihan. Harusnya yang menanggapi pemberitaan jalan rusak tersebut kapasitas Bupati atau Wakil Bupati .Karena tupoksi sekda itu antara lain berada di administrasi dan birokrasi pemerintahan," cetusnya.
Di era reformasi ini, tambahnya, masyarakat semakin cerdas dalam menanggapi berbagai persoalan di sekitarnya. Apalagi soal infrastruktur, seperti di daerah berjuluk Negeri Seribu Kubah ini yang dinilai halayan masih jauh dari harapan.
Karena fakta di lapangan, kerusakan infrastruktur, seperti jalan rusak itu dapat dilihat mata. Seperti jalan lintas Kubu dan jalan lintas Pujud-Tanjung Medan dan jalan lintas Sekapas yang mengalami kerusakan.
Sedangkankan, jalan dalam kota Bagasiapi-api dapat pula dilihat yang relatif masih bagus. Yang menjadi sorotan masyarakat, mengapa jalan dalam kota yang dinilai masyarakat relatif lebih bagus dieprbaiki lebih dulu dibanding jalan lintas dalam kabupaten yang rusak. (jmn)
Komentar Anda :