Potensi Perikanan Riau Bisa Jadi Andalan Besar Pertumbuhan Ekonomi
Senin, 17 Oktober 2016 - 19:19:21 WIB
|
Gubri Tinjau Pelabuhan Pelelangan Ikan
|
PEKANBARU, Suluhriau- Letak Provinsi Riau yang sangat strategis, membuat daerah ini memiliki potensi luar biasa dalam berbagai bidang. Dengan batas-batas wilayah laut dengan negara-negata tetangga, menjadikan daerah berpotensi besar meraup hasil laut.
Namun, bukan dari laut saja, Riau dengan wilayah cukup luas dengan sungai-sungai yang ada hasil perikanan air tawar juga menjanjikan bagi daerah ini. Beberapa sektor perikanan dan kelautan, baik di laut Cina Selatan, Selat Malaka dan perairan umumnya, maupun budidaya kolam, tambak dan keramba semuanya bisa dimanfaatkan untuk ekonomi.
Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau mencatat, potensi perikanan Riau cukup tinggi, yakni mencapai 132.000 ton. Ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 127.000 ton. Potensi biota di laut Cina Selatan mencapai 361.430 ton, sedangkan pemanfaatannya baru 211.732 ton atau 58,8 persen.
Potensi pengembangan di Selat Malaka senilai 84.928 ton. Dan pemanfaatannya mencapai 84.994 ton atau 100,07 persen. Begitu juga di perairan umum, potensi pengembangannya 14.232 ton, akan tetapi pemanfaatannya yakni 14.354,9 ton atau 100,01 persen.
Selain kelautan, potensi perikanan budidaya kolam di Riau mencapai 14.000 ton, sementara pemanfaatannya baru 2.403,58 ton atau 17,17 persen. Sejumlah potensi tersebut masih bisa dikembangkan secara optimal dalam mendukung pendapatan asli daerah (PAD).

Pelelangan ikan bisa dikembangkan di Riau
Bahkan, dakui sektor perikanan turut berkonstribusi besar terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Riau. Data dari Dinas Perikanan Provinsi Riau juga mencatat, sejak satu dasawarasa terakhir hingga kini, sektor perikanan memberi konstribusi lebih dari 2,06 persen terhadap PDRB daerah ini.
Melihat potensi yang besar ini, Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rachman berharap agar SKPD dan stake kholder dapat bersinergi memanfaatkan potensi ini untuk pertumbuhan ekonomi.
Dalam kunjungan kerja Gubri bersama perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) belum lama ini. Gubri sempat menyoroti kerugian yang dialami Riau akibat tidak memiliki pelabuhan ikan.
Ia menyebut Riau merugi selama bertahun-tahun karena aktivitas jual beli ikan dan pendataan terhadap nelayan tidak dapat dilakukan dengan baik. Maka data dan informasi produksi ikan diperlukan dalam pengelolaan perikanan. "Data produksi ikan harus dihitung secara riil. Ini menjadi tugas Dinas Perikanan dan Kelautan," katanya.
Menurutnya, bukan saja tingkat eksploitasi sumberdaya ikan Riau yang tidak dapat dipantau, pajak retribusi kapal-kapal besar yang beraktivitas di perairan Riau pun tidak dapat didata.

Budidaya keramba ikan di Kampar
Selain, itu ikan dan biota perairan yang masih tergolong kecil dan tahap pembesaran juga tereksploitasi nelayan, jika berlarut-larut maka akan berdampak negatif berupa penurunan potensi dari sektor perikanan dan kelautan di Riau.
Dikatakan, sektor perikanan Riau merupakan pemberi konstribusi kelima pada sektor pertanian, setelah sub sektor tanaman bahan makan, tanaman perkebunan, perternakan dan hasil-hasilnya serta kehutanan.
Salah satu upaya mendorong masyarakat di sektor ini juga dengan mengadakan lomba masak serba ikan. Seluruh menu yang diperlombakan berbahan yang ikan Tuna, Cakalang dan Tongkol.
Gubri meminta pembangunan dan pengembangan sektor perikanan di Riau harus berkesinambungan dan terintegrasi antar daerah.
"Sektor perikanan perlu mendapatkan perhatian serius untuk ldikembangkan secara profesional. Targetnya agar terjadi peningkatan produksi secara maksimal dan berkesinambungan untuk peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di negeri Bumi Lancang Kuning ini," tutupnya. (Advertorial Pemrov Riau)
Komentar Anda :