Senin, 17 Agustus 2026 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal | PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA | Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
 
 
☰ Nasional
Hari Lahir Pancasila
Hari Lahir Pancasila Pemikiran Islam Bung Karno dalam Pancasila
Kamis, 01 Juni 2017 - 15:52:27 WIB

SULUHRIAU, Jakarta - Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang telah disepakati dan final. Pancasila digali oleh Presiden pertama RI Sukarno yang kemudian dikemukakannya dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945.

Sebagai seorang muslim, pemikiran Bung Karno pun tak lepas dari ajaran Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Pun ketika dia berpidato tentang Pancasila di gedung Chuo Sangi In kala itu.

"Jikalau memang rakyat Indonesia, rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin urusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya Badan Perwakilan Rakyat 100 orang, anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya agar 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam," tutur Sukarno seperti dikutip dalam buku Tjamkan Pancasila: Pancasila Dasar Falsafah Negara.

Pernyataan Bung Karno itu dalam konteks memaparkan dasar negara tentang permusyawaratan. Dia hendak meyakinkan bahwa perjuangan lewat musyawarah harus menjadi dasar negara Indonesia yang masyarakatnya majemuk.

"Allah subhanahuwata'ala memberi pikiran kepada kita agar dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, supaya ke luar daripadanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah Saudara-saudara, prinsip nomor tiga, yaitu permusyawaratan!" kata Bung Karno.

Pada saat sidang BPUPKI itu, ada perwakilan pemerintah Jepang yang meninjau. Chuo Sangi In sendiri merupakan lembaga yang dibentuk Sukarno, Hatta, dan kawan-kawan untuk mendapat kepercayaan Jepang. Sehingga lembaga itu menjadi semacam penasihat pemerintah militer Jepang.

Namun bukan berarti saat itu Bung Karno memaparkan dasar negara sesuai 'pesanan' Jepang. Dia justru membuat peninjau dari Jepang tampak kecewa.

"Tidak satu pun dari ucapanku yang menyatakan kesetiaan kepada 'Dewa' mereka, Tenno Heika. Tidak satu pun kata-kataku memuji Dai Nippon. Aku tidak tunduk sama sekali kepada saran-saran dari pemerintahan mereka. Sesungguhnya pidatoku bahkan menyatakan bahwa aku antimonarki, karena Aku seorang Islam, aku seorang demokrat karena aku orang Islam, aku menghendaki mufakat, maka aku minta supaya tiap-tiap kepala negara, baik khalifah-khalifah maupun amirul mukminin harus dipilih oleh rakyat?" tutur Bung Karno kepada Cindy Adams yang kemudian ditulis dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Bung Karno merenungkan tentang dasar negara sejak 16 tahun sebelum pidatonya di BPUPKI. Salah satu dasar negara yang digalinya ketika dia diasingkan ke Pulau Ende, Flores, juga bernafaskan pemikirannya tentang Islam.

Dia bercerita dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia bahwa di Flores dirinya sering merenung di bawah pohon sukun yang menghadap ke teluk. Di sanalah dia mendapatkan 'ilham' dari Tuhan.

"Aku tahu, pemikiran yang akan kusampaikan bukanlah milikku. Engkaulah yang membukakannya kepadaku. Hanya Engkaulah Yang Maha Pencipta. Engkaulah yang selalu memberi petunjuk pada setiap nafas hidupku. Ya Allah, berikan kembali petunjuk serta ilham-Mu kepadaku," kata Sukarno menceritakan doa yang dia panjatkan pada malam hari jelang 1 Juni 1945.

Meski demikian Bung Karno tak hendak membuat Indonesia hanya menjadi negara untuk satu agama saja waktu itu. Bahkan dia yang memilih para anggota BPUPKI dan di antaranya ada 4 keturunan Tionghoa dan seorang keturunan Belanda.

"Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai panca indra. Apa yang bilangannya lima? Pandawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan; lima pula bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa--namanya ialah Pancasila," tutur Sukarno dalam sidang BPUPKI.

Selain tentang Islam, pemikiran Bung Karno juga banyak dipengaruhi para pemikir dan pemimpin dunia. Sederet tokoh disebutkan dalam pidatonya itu. Tetapi Bung Karno kemudian menegaskan bahwa Pancasila tidaklah sama dengan ideologi bangsa lain, termasuk kapitalisme dan komunisme.

"Aku tahu, kami tidak dapat mendasarkan bangsa kami pada Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Juga tidak pada Manifesto Komunis. Kami tidak dapat meminjam pandangan hidup bangsa lain, termasuk Tenno Koodo Saishim dari Jepang," ungkap Bung Karno di buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Sumber: detik.com



 
Berita Lainnya :
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  • Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
  • PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    02 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    03 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    04 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    05 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    06 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    07 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    08 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    09 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    10 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    11 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    12 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    13 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    14 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    15 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    16 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    17 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    18 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    19 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    20 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
    21 Dari Istana ke Desa Gobah, Prabowo Apresiasi 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
    22 Wujudkan WBBM 2026, Kemenkum Riau Benahi Data dan Inovasi Layanan
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat