Kamis, 01 Oktober 2026 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar | Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto | Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu | Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026 | Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum | Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
 
 
☰ Internasional
Myanmar: Media Tulis Berita Palsu Soal Rohingya Untuk Sesatkan Publik
Kamis, 07 September 2017 - 10:06:11 WIB
AFP/GettyImages

SULUHRIAU- Militer Myanmar membantah tuduhan melakukan kampanye kekerasan yang tidak pandang bulu atas umat Muslim Rohingya.

Dalam konferensi pers di ibu kota Naypitaw, Rabu (06/09), Penasihat Keamanan Nasional, Thaung Tun, menggemakan pernyataan Aung San Suu Kyi sebelumnya.

Menurut Aung San Suu Kyi -yang menjabat Konseler Negara dan merupakan pemimpin Myanmar sebenarnya- krisis di Negara Bagian Rakhine telah diputarbalikkan oleh yang disebutnya 'informasi yang salah'.

Hal itu diungkapkannya setelah adanya tekanan dari dunia internasional selama beberapa hari belakangan yang berpendapat pemerintah Myanmar gagal melindungi warga Rohingya di Rakhine.

Komentarnya itu merupakan yang pertama sejak maraknya kekerasan di Rakhine pekan lalu, yang -menurut perkiraan PBB- mendorong sekitar 140.000 warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Dan Thaung Tun, kepada para wartawan juga menuding bahwa media yang bertanggung jawab.
Thaung Tun tidak merujuk secara rinci berita yang menurutnya palsu. "Saya amat kecewa dan sedih dengan kampanye informasi yang berlangsung di seluruh dunia mengenai situasi di Rakhine. Sejumlah berita yang dibuat-buat itu ditulis dan diterbitkan untuk menyesatkan khalayak umum."

Thaung Tun menambahkan bahwa semua berita itu palsu, tanpa merujuk secara rinci yang dimaksudnya. "Berita-berita itu hanya memperuncing situasi."

Aksi terorisme, kata warga Yangon

Seorang dokter yang tinggal di Yangon yang fasih berbahasa Indonesia mengatakan bahwa berita-berita yang mereka baca dan mereka lihat di TV melaporkan bahwa yang terjadi di Negara Bagian Rakhine adalah aksi terorisme.

"Kan mereka menyerang pos-pos polisi segala macam, itu kan tindakan terorisme dan bukan tindakan pemberontakan lagi. Sudah beda," katanya ketika dihubungi lewat telepon.

Myanmar, koran,AFP Berita-berita yang dibaca di Yangon, menurut seorang warga, melaporkan insiden diRakhine sebagai tindakan terorisme.
Dokter yang tidak bersedia disebutkan namanya itu juga berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi di Rakhine sebenarnya tidak terkait dengan masalah agama.

"Bukan cuma masalah agama. Jadi di daerah situ kan masalahnya sangat banyak, termasuk imigran gelap juga. Jadi kita tidak bisa melihatnya sebagai umat Islam. Kebetulan mereka Muslim tapi masalahnya lebih rumit dari pada itu."

Bagi dokter yang pernah tinggal di Yogayakarta ini, juga tidak benar jika dianggap kekerasan oleh aparat keamanan di Rakhine itu tergolong pembunuhan massal.

"Kalau semacam genosida itu nggak, saya rasa. Kalau tindakan terorisme kan harus ditindak tegas oleh polisi atau mungkin bisa jadi army (tentara) karena kelompok-kelompok itu, kayak ARSA (kelompok militan Islam Rohingya yang dituduh menyerang pos polisi), kan belum tentu warga negara Myanmar."

Para pengungsi Rohingya yang berhasil mencapai tempat penampungan sementara di Bangladesh mengatakan bahwa aparat keamanan dan milisi Buddha membakari kampung-kampung mereka.

Namun Thaung Tun meminta agar para warga yang menjadi korban itu memberikan bukti-bukti ke pengadilan.

"Kami mengirim tim penyelidikan ke Cox's Bazaar (distrik di Bangladesh yang banyak menampung pengungsi Rohingya) dan meminta mereka untuk datang ke Myanmar di bawah perlindungan internasional dan menyampaikan kasusnya di pengadilan, memberikan bukti-bukti."

Pekan lalu pelapor khusus hak asasi PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee, mengkritik Aung San Suu Kyi yang dianggap gagal melindungi orang Rohingya walau menyadari dia berada dalam posisi yang sulit.

Sementara itu muncul petisi di internet untuk meminta agar Komite Nobel mencabut Nobel Perdamaian yang dianugerahkan kepada Suu Kyi tahun 1991 lalu.

Pihak berwenang Myanmar, seperti pada masa-masa lalu, membantah melakukan kekerasan atas Rohingya di Rakhine namun menggelar operasi militer untuk memberantas kelompok militan Rohingya, yang dituduh menyerang sekitar 20 pos polisi.

Menyangkut kampung-kampung yang dibakar, Menteri urusan Keamanan Perbatasan di Rakhine, Kolonel Phone Tint menolak jika aparat keamanan yang dituduh bertanggung jawab.

Kepada wartawan BBC, Jonathan Head -yang ikut dalam perjalanan yang diatur pemerintah ke kota Maungdaw di dekat perbatasan Myanmar dan Bangladesh- dia mengatakan penghancuran kampung-kampung sengaja dilakukan oleh milisi Rohingya untuk mendorong warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Dalam perkembangan terpisah, Bangladesh akan menyampaikan protes resmi kepada pemerintah Myanmar karena diduga memasang ranjau darat di dekat salah satu perbatasan kedua negara.

Sumber: bbc Indonesia, detik.com | Editor: Jandri




 
Berita Lainnya :
  • Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
  • Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
  • Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
  • Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
  • Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
    02 Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
    03 Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
    04 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    05 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    06 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    07 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    08 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    09 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    10 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    11 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    12 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    13 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
    14 Titik Api Nihil di Riau, Kabut Asap Kiriman Selimuti Sejumlah Daerah
    15 Polsek Tapung Tangkap Warga Tanjung Sawit dan Sita 31,41 Gram Sabu
    16 Siti Hasmah Istri Mantan PM Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100 Tahun, Malaysia Gelar Pemakaman Kenegaraan
    17 Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Pembentukan Regulasi Bersama Unri
    18 Perkuat Peran Posbankum, Kanwil Kemenkum Riau Beri Edukasi Hukum pada Masyarakat Tuah Negeri
    19 Aktifkan Posbankum Tuah Negeri, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Paralegal Lewat SIBAPAK
    20 Diikuti 50 Kepala Sekolah, PWI Kepulauan Meranti Taja Pelatihan dan Seminar Jurnalistik
    21 8 Tahun Terbengkalai, Pemprov Riau akan Urus Jembatan Penghubungkan Pasar Rumbio-Pulau Payung
    22 Polsek Tambang Tangkap Pelaku Pemerkosaan Remaja, Dua Pelaku Lain Masih Buron
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat