Selasa, 18 Agustus 2026 Mafirion: Agrinas Jangan Beri KSO kepada Perusahaan yang Abaikan Kepentingan Masyarakat | Dibalut Pakaian Adat Nusantara, Upacara HUT ke-81 RI di Pemko Pekanbaru Berlangsung Khidmat | Di Balai Pauh Janggi, Kemenkum Riau Serahkan Remisi HUT ke-81 RI untuk Narapidana | Peringati HUT ke-81 RI, Kemenkum Riau Tegaskan Komitmen Layani Rakyat dengan Integritas | Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti | Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap
 
 
☰ Sosial Budaya
KOLOM
Pawang Hujan
Selasa, 22 Maret 2022 - 07:33:36 WIB
 Abdul Wahid

SEBAGIAN orang percaya bahwa turunnya hujan merupakan penanda datangnya rezeki.

Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, turunnya hujan terkadang justru dihentikan oleh seseorang yang disebut pawang hujang. Benarkah Sang Pawang mampu menghentikan hujan?

Adalah Rara Istiani Wulandari, Perempuan kelahiran Jayapura, Papua, pada 22 Oktober 1983 itu kini benar-benar menjadi terkenal.

Pekerjaannya dianggap hal klenik dan sangat disayangkan ditampilkan di pagelaran bertaraf Internasional yaitu MotoGP Mandalika.

Namun dipuji media asing dan akun MotoGP atas aksinya melakukan ritual menangkal hujan. Rara sebagai pawang hujan Mandalika turut menjadi sorotan utama di Pertamina Grand Prix of Indonesia, nama resmi MotoGP Mandalika, selain para pebalap yang bertanding.

Dalam wikipidia disebutkan Pawang Hujan adalah sebutan untuk seseorang dalam masyarakat Indonesia yang dipercaya memiliki ilmu gaib dan dapat mengendalikan hujan atau cuaca.

Umumnya, pawang hujan mengendalikan cuaca dengan memindahkan awan. Jasa pawang hujan biasanya dipakai untuk acara-acara besar seperti perkawinan, konser musik dan banyak lagi.

 Istilah pawang hujan sudah dikenal sejak dahulu kala, bahkan sudah ada sejak zaman manusia purba. Dahulu kala, pawang hujan atau disebut shaman ini tugasnya tidak hanya memanggil atau menghentikan hujan, tetapi juga menjadi tabib atau mengobati orang sakit. Seiring berkembangnya zaman, pawang hujan mulai tak lagi mendapat tempat.

Kini, prediksi hujan lebih banyak menggunakan sains, dan dikendalikan oleh lembaga seperti badan meteorologi.  

Menurut jurnal Objek-Objek Dalam Riwayat Penangkal Hujan oleh Imaniar Yordan Christy, tradisi tolak hujan juga dikenal dalam tradisi Kejawén (Jawa).

Ritual dilakukan dengan mendirikan sapu lidi yang ditusukkan cabai dan bawang merah dengan diiringi doa. Kemudian dikutip dari tulisan berjudul Tradisi Nyarang Hujan Masyarakat Muslim Banten (Studi di Kecamatan Cimanuk Kabupaten Pandeglang), ritual terkait hujan ini sudah berlaku turun temurun.

Saking lamanya, tidak diketahui sejarah awal tradisi yang terus berakar hingga sekarang.
Munculnya tradisi ini merupakan bagian dari ihtiar manusia selaku makluk  berusaha membangun komunikasi dengan alam yang memiliki celah tiadanya kepastian.

Karena adanya hajat hidup manusia yang mengundang banyak orang. Agenda tersebut diharapkan bisa berlangsung dengan baik dan lancar, tanpa ada gangguan termasuk turunnya hujan.

Dalam tradisi ini, peran pawang hujan bukanlah menolak hujan, akan tetapi memindahkan atau menunda datangnnya hujan.

Pekerjaan sang pawang ini bukan tanpa tantangan, karena disaat dia bertugas selain mengamankan lokasi dari datangnya hujan, juga harus berhadapan dengan pawang hujan lain yang mungkin sekedar iseng mengganggu, atau sengaja melakukannya karena diminta untuk menggagalkan suatu acara dengan hujan.

Keberadaan pawang hujan ini bukan hanya di Indonesia, tapi juga ada di negara Asia lainnya, bahkan Eropa, Amerika, dan Afrika.

Jepang

Untuk menolak hujan mereka mempercayai boneka putih yang digantung di jendela. Boneka itu disebut teru-teru bozu. Boneka ini sudah digunakan sejak zaman dahulu sebagai penangkal hujan di Jepang.

Teru teru bozu adalah boneka tradisional Jepang yang terbuat dari kertas atau kain putih yang digantung di tepi jendela dengan menggunakan benang. Jimat ini diyakini memiliki kekuatan mendatangkan cuaca cerah dan menghentikan atau mencegah hujan. Dalam bahasa Jepang, teru adalah kata kerja yang berarti "bersinar" atau "cerah", dan bozu dapat berarti bhiksu.

Thailand

Thailand juga memercayai adanya ritual penghentian hujan. Biasanya, mereka akan menggunakan serai dan seorang gadis perawan sebagai penghalau hujan.

Masyarakat setempat akan menancapkan sebatang serai ke tanah dan meminta gadis perawan berdoa supaya hujan dapat segera berhenti. Beberapa sejarawan sudah mengakui keampuhan ritual ini setelah menyaksikannya secara langsung.

Ritual ini dipercaya dapat menangkal awan badai, sehingga cuaca dapat menjadi jauh lebih cerah. Bahkan, masyarakat Thailand yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan paham teknologi juga ikut melakukan ritual ini.

Eropa, Amerika dan Afrika

Selain di Asia, masyarakat Amerika dan Eropa tercatat pernah menggunakan jasa pawang hujan pada beberapa acara bergengsi. Pada 2018, rumah mode asal Perancis, Louis Vuitton, pernah menyewa pawang hujan asal Brasil untuk membantu kelancaran peragaan busana di Rio de Janeiro dan Kyoto, yang dilakukan diluar ruangan.

Hal serupa juga dilakukan Festival Teater Ibero-Amerika, yang menghadirkan ratusan perusahaan teater, grup tari, dan musisi dari beberapa negara keKolombia.


Apa yang dilakukan pawang hujan, adalah pembuktian kelemahan dan kepercayaan manusia terhadap Tuhan, sebagai Penguasa Tunggal Alam ini.

___________
Penulis adalah Kepala Subbag Tata Usaha Kemenag Kota Pekanbaru. [Isi tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis]




 
Berita Lainnya :
  • Mafirion: Agrinas Jangan Beri KSO kepada Perusahaan yang Abaikan Kepentingan Masyarakat
  • Dibalut Pakaian Adat Nusantara, Upacara HUT ke-81 RI di Pemko Pekanbaru Berlangsung Khidmat
  • Di Balai Pauh Janggi, Kemenkum Riau Serahkan Remisi HUT ke-81 RI untuk Narapidana
  • Peringati HUT ke-81 RI, Kemenkum Riau Tegaskan Komitmen Layani Rakyat dengan Integritas
  • Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Mafirion: Agrinas Jangan Beri KSO kepada Perusahaan yang Abaikan Kepentingan Masyarakat
    02 Dibalut Pakaian Adat Nusantara, Upacara HUT ke-81 RI di Pemko Pekanbaru Berlangsung Khidmat
    03 Di Balai Pauh Janggi, Kemenkum Riau Serahkan Remisi HUT ke-81 RI untuk Narapidana
    04 Peringati HUT ke-81 RI, Kemenkum Riau Tegaskan Komitmen Layani Rakyat dengan Integritas
    05 Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti
    06 Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap
    07 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    08 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    09 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    10 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    11 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    12 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    13 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    14 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    15 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    16 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    17 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    18 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    19 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    20 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    21 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    22 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat