Detik-detik Hengkangnya Satgas PKH di Kawasan Tesso Nilo Karena Ditekan Ribuan Massa
Jumat, 18 Juli 2025 - 13:34:40 WIB
SULUHRIAU, Pelalawan- Belasan Satuan Tugas Penanganan Konflik Hutan (Satgas PKH) terdiri dari anggota TNI yang mengawal kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Kabupaten Pelalawan, Riau harus angkat kaki dari kawasan itu karena tekanan massa.
Suasana menegangkan saat satgas bersiap-siap masuk ke mobil untuk keluar dari kawasan hutan tersebut, Kamis (17/7/2025).
Ribuan warga memadati jalan perkebunan sawit di Bukit Kesuma untuk mengawal langsung iring-iringan kendaraan yang membawa Satgas PKH keluar dari kawasan itu.
Satgas PKH ini sejak beberapa bulan terakhir menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengamankan kawasan TNTN yang terus mengalami perambahan.
Pemerintah saat ini tengah gencar-gencarnya dalam upaya memulihkan kawasan itu dari jarahan pihak-pihak tertentu.
Namun, tidak mudah mengembalikan kawasan itu sebagaimana yang diharapkan. Keberadaan satgas PKH juga memicu pro dan kontra di tengah masyarakat yang selama ini bermukim dalam kawasan tersebut.
Dari video beredar ke publik, tampak ribuan warga berkerumun dan melontarkan kata bernada penolakan kepada Satgas PKH.
“Jangan balik lagi. Langsung ke rumah aja," ujar warga terdengar di video beredar.
Kalimat keluar dari mulut warga yang menyaksikan keberangkatan Satgas PKH.
Informasi yang dirangkum, kejadian itu bermula ketika Satgas PKH melakukan penertiban terhadap kebun sawit ilegal diduga milik RS di dalam kawasan TNTN.
Aksi penertiban sempat mendapat penolakan dari sekelompok orang yang mengaku warga dan mengatasanamakan membela masyarakat.
Namun, saat itu warga yang menghadang itu sempat mundur karena kalah jumlah petugas, kelompok itu kembali dengan dukungan massa yang lebih besar.
Informasi menyebutkan, setelah mundur, diduga ada dalang yang disebut-sebut si "Naga Mata Satu" menggelar orasi provokatif menggunakan pengeras suara di sebuah pasar, menyerukan agar warga 'mengusir' Satgas PKH dari kampung mereka.
Seruan itu memantik emosi massa yang kemudian berbalik menghadang Satgas PKH hingga petugas terpaksa meninggalkan lokasi.
Ironisnya, sebagian besar massa yang terlibat diduga bukan penduduk asli Dusun VI Medang Raya Lestari, melainkan orang-orang yang diduga sengaja didatangkan dan diarahkan oleh tiga tokoh yang tidak terima lahan sawit mereka di kawasan TNTN ditertibkan.
Situasi ini memicu kekhawatiran soal keterlibatan aktor luar yang menunggangi konflik demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Juru Bicara Lembaga Adat Negeri (LAN) Muhammadun menyesalkan insiden tersebut. Ia menegaskan pentingnya negara bersikap tegas.
“Negara boleh mengalah, tapi jangan kalah oleh pembangkang dan perambah hutan TNTN,” ujarnya, dilansir wartarakyatonline, Jumat, (18/7/2025).
Kondisi di TNTN pun masih rawan memicu bentrokan lanjutan jika langkah pengamanan yang terukur tidak segera dilakukan.
Tekanan warga ini menjadi simbol kuat perlawanan terhadap program relokasi yang masih ditolak oleh sebagian besar masyarakat setempat.
Kepulangan Satgas PKH disambut lega oleh warga, namun di sisi lain, ini menandakan bahwa konflik belum benar-benar berakhir.
Hingga saat ini, ribuan warga masih bertahan di kawasan TNTN dan menolak meninggalkan lahan teesebut.
Hingga berita ini sirilis, belum ada keterangan resmi penegak hukum terkait penghadangan Satgas PKH di kawasan itu. (***)
Editor: Khairul
Komentar Anda :