Minggu, 16 Agustus 2026 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal | PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA | Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
 
 
☰ Opini
Fenomena Keterbatasan Literasi & Numerasi Dasar (Learning Poverty) pada Sekolah Dasar
Rabu, 15 Oktober 2025 - 09:41:41 WIB
Sarafuddin, S.Pd.,M.Pd

PINTU Awal yang Belum Terbuka
Pendidikan dasar seharusnya menjadi pintu pertama bagi anak-anak untuk mengenal dunia pengetahuan. Namun, di Indonesia, pintu itu masih belum sepenuhnya terbuka bagi semua. 


Banyak anak usia sekolah dasar belum mampu membaca pemahaman sederhana atau melakukan perhitungan dasar secara benar.


Fenomena ini dikenal sebagai learning poverty kemiskinan belajar dan menjadi salah satu tantangan paling serius dalam sistem pendidikan kita.
Menurut data Bank Dunia, learning poverty menggambarkan kondisi anak usia 10 tahun yang tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana.


Di Indonesia, angka ini masih cukup tinggi, menunjukkan bahwa sebagian besar anak belum menguasai kemampuan literasi dan numerasi dasar, padahal dua hal itu merupakan fondasi bagi seluruh proses belajar selanjutnya. Akar Masalah yang Kompleks Penyebab learning poverty tidak tunggal. 


Ia merupakan hasil dari akumulasi persoalan struktural dalam sistem pendidikan kita. 


Pertama, kualitas pengajaran masih menjadi isu utama. Banyak guru di sekolah dasar belum mendapatkan pelatihan efektif dalam mengajarkan literasi dan numerasi secara kontekstual dan menyenangkan. 
Metode pembelajaran masih sering bersifat hafalan, bukan pemahaman. 


Kedua, keterbatasan sarana belajar memperparah keadaan. Di sekolah-sekolah pelosok, buku bacaan masih menjadi barang langka, sementara akses terhadap teknologi pendidikan hampir tidak ada. 


Ketiga, faktor sosial-ekonomi turut memperlebar jurang pembelajaran. Anak dari keluarga miskin sering kali kekurangan waktu dan dukungan untuk belajar di rumah. 


Tidak jarang, mereka juga menghadapi gizi buruk, yang berdampak langsung pada kemampuan konsentrasi dan daya tangkap. Terakhir, sistem evaluasi dan kurikulum sering kali terlalu menuntut hasil, bukan proses. Fokus pada ujian membuat siswa belajar untuk menghafal, bukan memahami.


Padahal, literasi dan numerasi tidak bisa tumbuh dari tekanan, melainkan dari kebiasaan berpikir dan berlatih.


Dampak yang Tak Boleh Diremehkan
Ketika anak-anak gagal menguasai kemampuan dasar di usia dini, mereka akan kesulitan memahami pelajaran di jenjang berikutnya. Ini menciptakan efek domino: rendahnya prestasi akademik, menurunnya motivasi belajar, bahkan meningkatnya risiko putus sekolah.


Dalam jangka panjang, learning poverty bukan hanya masalah pendidikan, melainkan juga masalah pembangunan manusia. Negara dengan tingkat learning poverty tinggi akan kesulitan menciptakan sumber daya manusia yang produktif, kreatif, dan kompetitif.


Menjemput Harapan: Jalan Keluar dari Learning Poverty


Mengatasi learning poverty memerlukan kolaborasi dan keberanian untuk berbenah.
Pertama, pemerintah perlu memperkuat pelatihan guru dengan fokus pada strategi pembelajaran literasi dan numerasi berbasis pemahaman, bukan sekadar kurikulum formal. 


Kedua, akses sumber belajar harus merata. Buku bacaan, alat peraga, dan media belajar digital harus menjangkau seluruh wilayah, bukan hanya kota besar.


 Ketiga, peran orang tua dan komunitas perlu diperkuat. Literasi tidak hanya tumbuh di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan sekitar.


 Keempat, inovasi teknologi pendidikan dapat menjadi jembatan baru, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya.


Kita tidak bisa menunggu anak-anak “siap belajar” ketika sistemnya sendiri belum siap mengajar. Learning poverty hanya bisa ditaklukkan jika kita memandang pendidikan dasar bukan sebagai rutinitas, tetapi sebagai investasi bangsa.


Anak-anak Indonesia berhak tumbuh dalam lingkungan belajar yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis sejak dini. 


Jika literasi dan numerasi dasar masih menjadi kemewahan, maka masa depan bangsa pun masih menjadi tanda tanya. Menghapus learning poverty bukan sekadar tugas pendidikan, tetapi panggilan moral kita bersama. (***)


________


Penulis: Sarafuddin, S.Pd.,M.Pd
(Dosen FKIP Prodi Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi)


 




 
Berita Lainnya :
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  • Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
  • PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    02 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    03 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    04 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    05 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    06 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    07 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    08 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    09 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    10 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    11 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    12 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    13 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    14 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    15 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    16 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    17 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    18 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    19 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    20 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
    21 Dari Istana ke Desa Gobah, Prabowo Apresiasi 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
    22 Wujudkan WBBM 2026, Kemenkum Riau Benahi Data dan Inovasi Layanan
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat