Kamis, 01 Oktober 2026 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar | Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto | Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu | Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026 | Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum | Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
 
 
☰ Pendidikan
AI Hancurkan Monopoli Pengetahuan Kampus, SEVIMA dan Prof Rhenald Kasali Berikan Tips Perubahan
Kamis, 19 Februari 2026 - 10:38:14 WIB

 


SULUHRIAU- Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus Founder Rumah Perubahan Prof Rhenald Kasali menyebut artificial intelligence (AI) telah menghancurkan monopoli pengetahuan yang selama ini dipegang dosen. 


Bahkan kerap viral di media sosial, candaan sebagian generasi muda yang menganggap kuliah adalah scam (penipuan).


Pernyataan itu disampaikan di hadapan ratusan pimpinan perguruan tinggi dalam Executive Workshop SEVIMA bertajuk “Lead The Future: Memimpin Orkestrasi Kampus Berdampak dengan Artificial Intelligence (AI) dan Kurikulum Outcome Based Education (OBE).” Bagi Prof. Rhenald Kasali, ini adalah wake-up call (panggilan) bagi kampus untuk segera berubah.


“Sekarang, dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. GenZ sudah punya orang cerdas kepercayaan di sini. Dia lebih percaya yang disini. 


AI bisa menjelaskan lintas disiplin. Jadi kalau kita tidak melakukan apapun, AI sudah siap menghancurkan monopoli pengetahuan dari dosen,” ujar Rhenald dalam Executive Workshop SEVIMA,  Rabu (18/2/2026) di Rumah Perubahan, Jakarta.


Untuk berubah, pendidikan yang dulunya adalah proses menyalurkan ilmu dari dosen kepada mahasiswa, harus diubah. Yaitu untuk mengonstruksi manusia, membentuk dan mengembangkan potensi individu sesuai dengan keunikan masing-masing.


Untuk mendiskusikan problematika ini, hadir Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Dr. Henri Togar H. T., M.A.


Guru Besar Universitas Indonesia dan penggagas Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., serta para pakar sebagai narasumber. Acara ini juga dibuka secara hybrid oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Gubernur DKI Jakarta, Menteri Agama, dan berbagai pejabat tinggi lainnya diikuti oleh ratusan rektor dari seluruh Indonesia. 


Berikut tiga tips bagi perguruan tinggi untuk segera berubah di era perkembangan AI:


1. Petakan Dulu Masalah Dasar Pendidikan


CEO SEVIMA Sugianto Halim, M.M.T. mengatakan pendidikan tinggi di Indonesia membutuhkan transformasi mendesak. Sebagai catatan, data yang menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan yakni Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia stagnan di angka 32,89 persen selama hampir delapan tahun. Artinya hanya 32 dari 100 anak usia kuliah yang mengenyam pendidikan tinggi.


Padahal target RPJPN menuju Indonesia Emas 2045 mematok 60 persen, sebuah lompatan yang menuntut pertumbuhan eksponensial. Kesenjangan antar wilayah memperparah situasi, dimana APK Yogyakarta di 74 persen dan Papua Pegunungan hanya 13 persen, sementara 9,9 juta anak muda berstatus NEET (tidak kuliah, tidak bekerja, tidak mengikuti pelatihan). 


Namun, ada juga peluang. Berdasarkan survei yang dilakukan SEVIMA terhadap lebih dari 300+ pimpinan dan civitas perguruan tinggi di Indonesia, ditemukan fakta bahwa 68,1 persen institusi berencana memprioritas teknologi generative AI ke dalam sistem mereka dalam tiga tahun ke depan. Ini bukan angka kecil. Ini adalah sinyal kuat bahwa arah transformasi digital di dunia pendidikan tinggi sudah mulai bergeser dari digitalisasi administratif menuju pemanfaatan teknologi cerdas berbasis AI.


Kepala LLDIKTI Wilayah III Dr. Henri Togar H. T., M.A. menegaskan OBE sebagai instrumen strategis agar AI tidak sekadar menjadi gimmick. Menurutnya teknologi harus mendukung pencapaian kompetensi lulusan melalui tiga tahap, yakni perencanaan (memetakan capaian pembelajaran), pelaksanaan (pembelajaran interaktif-adaptif), dan evaluasi (penilaian objektif berbasis bukti).


Urgensinya, kebutuhan tenaga kerja sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) diperkirakan 2 juta orang saat ini dan diproyeksikan melonjak hingga 9 juta pada 2030 dengan permintaan kuat di bidang AI.


Sementara dari 244 PTS di bawah binaannya, prodi yang secara eksplisit fokus pada kecerdasan buatan baru ada di 2 kampus dan belum menghasilkan lulusan. Tantangan implementasi pun tidak ringan, perkembangan AI yang bergerak dalam hitungan hari berbenturan dengan proses kurikulum yang memakan waktu panjang, kesiapan dosen yang harus melampaui teori ke penerapan nyata, serta ancaman terhadap integritas akademik di era mahasiswa yang terbiasa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas. 


"Teknologi seharusnya membantu manusia berkembang, bukan menggantikan peran manusia secara mentah," tegas Henri.


2. Adaptif dan Kejar Kemampuan AI Seperti Gen Z


Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hj. Himmatul Aliyah, M.Si. menyoroti bahwa kekhawatiran terhadap AI bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Ia mengingatkan bahwa ketakutan serupa pernah muncul saat kalkulator hadir dan guru khawatir kehilangan kemampuan mengajar analitik.


Namun Himmatul menegaskan tantangan terbesar ada di sisi kompetensi pendidik, dosen dan guru dinilai secara platform dan kompetensi AI masih kurang, sementara mahasiswa Generasi Z yang sudah terbiasa dengan ChatGPT sejak bangku SD justru minim pemahaman etika. "Ini lembah yang sangat dalam, dan di situlah peran SEVIMA maupun swasta lainnya, termasuk pemerintah, harus hadir," tegasnya.


3. Integrasikan AI dalam pembelajaran


Sejalan dengan yang disampaikan Prof Rhenald Kasali agar AI diposisikan sebagai instrumen dan agen aktif dalam pembelajaran, bukan hanya sekadar alat bantu, SEVIMA meluncurkan Edlink Dosen Pro AI, sistem berbasis kecerdasan buatan hasil hilirisasi riset yang didanai Hibah Riset Prioritas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui skema Ajakan Industri.


Produk ini mampu mengkonversi presentasi PowerPoint atau bahan ajar menjadi video pembelajaran secara otomatis, menyusun draft RPS terstruktur sesuai framework OBE, serta menghasilkan bank soal yang terpetakan ke taksonomi Bloom dan selaras dengan CPL.


Fitur ini dirancang meringankan beban administratif dosen sekaligus mengakselerasi implementasi kurikulum OBE di level institusi. Pada kesempatan yang sama turut diluncurkan ekosistem AI SEVIMA yang mencakup AI Kurikulum OBE, AI Prediksi Kelulusan, AI Computer-Based Test, AI Content Generator, hingga Presensi berbasis AI DeepFace, rangkaian teknologi yang mendampingi perguruan tinggi dari desain kurikulum hingga evaluasi dan tata kelola.


“Kami ingin dosen tidak lagi terbebani pekerjaan administratif yang repetitif. Biarkan AI yang mengerjakan itu, sehingga dosen dapat lebih fokus pada inovasi dan pendampingan mahasiswa,” tambah Halim.


Forum ini bukan yang pertama kali diselenggarakan. Sejak 2023, SEVIMA secara konsisten menggelar forum serupa di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, dan sejumlah kota lainnya, menjadikannya agenda rutin yang dinantikan pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia. Setiap penyelenggaraan mengangkat tema yang relevan dengan tantangan terkini pendidikan tinggi, mulai dari digitalisasi kampus, Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), hingga implementasi


 




 
Berita Lainnya :
  • Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
  • Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
  • Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
  • Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
  • Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
    02 Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
    03 Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
    04 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    05 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    06 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    07 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    08 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    09 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    10 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    11 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    12 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    13 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
    14 Titik Api Nihil di Riau, Kabut Asap Kiriman Selimuti Sejumlah Daerah
    15 Polsek Tapung Tangkap Warga Tanjung Sawit dan Sita 31,41 Gram Sabu
    16 Siti Hasmah Istri Mantan PM Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100 Tahun, Malaysia Gelar Pemakaman Kenegaraan
    17 Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Pembentukan Regulasi Bersama Unri
    18 Perkuat Peran Posbankum, Kanwil Kemenkum Riau Beri Edukasi Hukum pada Masyarakat Tuah Negeri
    19 Aktifkan Posbankum Tuah Negeri, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Paralegal Lewat SIBAPAK
    20 Diikuti 50 Kepala Sekolah, PWI Kepulauan Meranti Taja Pelatihan dan Seminar Jurnalistik
    21 8 Tahun Terbengkalai, Pemprov Riau akan Urus Jembatan Penghubungkan Pasar Rumbio-Pulau Payung
    22 Polsek Tambang Tangkap Pelaku Pemerkosaan Remaja, Dua Pelaku Lain Masih Buron
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat