Senin, 17 Agustus 2026 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal | PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA | Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
 
 
☰ Sosial Budaya
Tokoh Berpengaruh dalam Sejarah Masjid Raya Senapelan: Dari Sultan Siak hingga Sulaiman India
Kamis, 26 Februari 2026 - 22:36:30 WIB

SULUHRIAU, Pekanbaru- Masjid Raya Senapelan tidak dapat dipisahkan dari peran para sultan dan tokoh masyarakat yang mewarnai perjalanan sejarahnya. 


Masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan simbol perpindahan pusat kekuasaan, perkembangan perdagangan, serta jejak peradaban Kota Pekanbaru.


Ketua Pengurus Masjid Raya Senapelan Pekanbaru, H Juli Usman, menegaskan bahwa tokoh paling awal dan berpengaruh terhadap berdirinya masjid ini adalah Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah. 


Ia menambahkan, sultan tersebut memegang peran penting dalam memindahkan pusat Kerajaan Siak ke Senapelan pada abad ke-18.


“Untuk yang pertama tentu, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Sultan Siak ke-4, bergelar Marhum Bukit) yang menjadi tokoh di balik berdirinya Masjid Senapelan. Ia memindahkan pusat Kerajaan Siak ke Senapelan dan mendirikan masjid ini pada abad ke-18 sebagai bagian dari syarat adat,” kata H Juli Usman, kepada Media Center Riau, di Pekanbaru, Kamis, (26/2/2026).


Pemindahan pusat kerajaan tersebut menjadi momentum penting dalam sejarah kawasan ini. Masjid didirikan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol legitimasi kekuasaan dan pemenuhan syarat adat dalam tradisi Melayu, yang mensyaratkan keberadaan masjid sebagai bagian dari struktur pemerintahan.


Dijelaskan, setelah Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, tongkat estafet pembangunan dilanjutkan oleh Sultan Siak ke-5, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, yang bergelar Marhum Pekan. Ia menyempurnakan pembangunan masjid sekaligus menata kawasan di sekitarnya.


“Kemudian, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (Sultan Siak ke-5, bergelar Marhum Pekan) menyelesaikan pembangunan sekaligus mengembangkan kawasan sekitar masjid menjadi pusat perdagangan. Sehingga, dari sinilah awal mula munculnya nama Pekanbaru,” jelasnya.


Pengembangan kawasan perdagangan di sekitar masjid menjadi cikal bakal tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat. Kata “pekan” yang berarti pasar atau tempat berdagang kemudian berkembang menjadi identitas kota, yang hari ini dikenal sebagai Pekanbaru.


Eksistensi masjid ini sekaligus menjadi bukti bahwa wilayah Senapelan pernah menjadi pusat kekuasaan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Dari sinilah sejarah pemerintahan, agama, dan perdagangan bertaut dalam satu ruang yang sama.


Memasuki abad ke-20, pembangunan masjid memasuki fase baru di masa pemerintahan Sultan Siak ke-12, Sultan Syarif Hasyim II. Pada tahun 1926, ia menggagas pembangunan masjid baru dengan konstruksi yang lebih kokoh.


“Memasuki tahun 1926, Sultan Syarif Hasyim II melakukan pembangunan masjid yang baru, jaraknya sekitar 30 meter dari tempat lama. Sultan Siak ke-12 ini mengubah bahan masjid yang semulanya kayu menjadi bangunan lebih kokoh. Pembangunan masjid ini berlangsung selama 10 tahun,” tutur Juli Usman.


Perubahan material dari kayu ke struktur yang lebih permanen menandai transformasi arsitektur dan visi pembangunan yang lebih modern. Proses pembangunan yang berlangsung satu dekade menunjukkan keseriusan dan komitmen Kesultanan dalam menjaga keberlangsungan masjid sebagai pusat spiritual masyarakat.


Selain para sultan, Juli Usman mengungkapkan terdapat tokoh masyarakat yang tak kalah penting dalam pembangunan masjid, yakni Haji Sulaiman India. Ia dikenal sebagai arsitek sekaligus panitia pelaksana pembangunan masjid pada masa itu.


“Tokoh penting lainnya yang ikut mendirikan masjid ini adalah Haji Sulaiman India. Beliau merupakan arsitek yang sekaligus panitia pelaksana pembangunan masjid. Sumur tua dibangun sejak tahun 1928, merupakan peninggalan yang diprakarsai dirinya,” ungkapnya.


Sumur tua yang masih ada hingga kini menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang memperkaya nilai arsitektur dan budaya masjid. Keberadaannya menjadi saksi keterlibatan tokoh non-sultan dalam pembangunan fisik dan fasilitas penunjang rumah ibadah tersebut.


Ketua Pengurus Juli Usman menerangkan, bahwa perjalanan panjang Masjid Raya Senapelan menunjukkan bahwa banyak tokoh yang terlibat, baik dari kalangan kerajaan maupun masyarakat. Kolaborasi inilah yang membuat masjid tetap bertahan lintas generasi.


“Perjalanan masjid ini sangat panjang dan orang-orang yang terlibat dalam pembangunan juga banyak. Masjid Raya Senapelan menjadi bukti bahwa Kerajaan Siak Sri Indrapura pernah bertahta di Pekanbaru. Artinya, tak salah jika kawasan ini menjadi salah satu tempat referensi sejarah di daerah kita,” tegasnya. (mcr)


 




 
Berita Lainnya :
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  • Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
  • PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    02 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    03 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    04 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    05 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    06 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    07 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    08 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    09 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    10 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    11 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    12 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    13 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    14 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    15 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    16 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    17 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    18 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    19 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    20 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
    21 Dari Istana ke Desa Gobah, Prabowo Apresiasi 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
    22 Wujudkan WBBM 2026, Kemenkum Riau Benahi Data dan Inovasi Layanan
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat