ADA SAAT-SAAT dalam sejarah ketika langit tampak gelap, harapan seakan padam, dan masa depan terlihat begitu suram.
Pada saat-saat seperti itu, manusia sering menyangka bahwa semuanya telah berakhir. Padahal, justru di saat itulah Allah sedang menulis babak kemenangan yang belum mampu dibaca oleh mata manusia.
Begitulah cara Allah bekerja dalam sejarah.
Ketika bangsa Mongol menyerbu dunia Islam pada abad ketujuh Hijriah, umat Islam mengalami salah satu tragedi terbesar sepanjang sejarahnya. Kota-kota dihancurkan, perpustakaan dibakar, jutaan manusia dibunuh. Baghdad, pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, runtuh di bawah derap kuda pasukan Mongol. Dunia Islam saat itu seakan kehilangan masa depannya.
Andai kita hidup pada masa itu, mungkin kita akan berkata, “Umat ini telah selesai.”
Namun Allah memiliki rencana yang berbeda. Di antara korban-korban tragedi itu terdapat ribuan anak kecil yang kehilangan ayah, ibu, keluarga, dan kampung halamannya. Mereka menjadi yatim, terlantar, dan tidak memiliki siapa pun untuk melindungi mereka. Sebagian dijual sebagai budak dan dibawa jauh dari tanah kelahirannya.
Siapa yang menyangka bahwa anak-anak yang menangis kehilangan orang tua itu kelak akan menjadi penyelamat umat?
Mereka dibina, dididik, ditempa dengan ilmu dan keimanan. Tahun demi tahun berlalu hingga mereka tumbuh menjadi generasi yang kuat. Mereka dikenal dalam sejarah sebagai kaum Mamluk.
Dan ketika gelombang Mongol yang selama puluhan tahun tak terkalahkan terus bergerak menghancurkan negeri-negeri Islam, Allah mempertemukan mereka dengan generasi yatim tersebut di medan Ain Jalut.
Hasilnya mengejutkan dunia. Pasukan Mongol yang selama ini dianggap mustahil dikalahkan akhirnya tumbang. Untuk pertama kalinya mereka merasakan kekalahan besar. Bukan di tangan kerajaan besar, bukan pula oleh bangsa yang kaya raya, tetapi oleh anak-anak yatim yang dahulu melarikan diri dari pedang mereka sendiri.
Subhanallah. Allah menjadikan luka mereka sebagai jalan kemenangan. Allah menjadikan air mata mereka sebagai awal kebangkitan. Allah menjadikan kehilangan mereka sebagai sebab kemuliaan umat.
Bahkan bukan hanya itu. Gelombang migrasi akibat serangan Mongol juga menjadi salah satu sebab lahirnya kekuatan besar yang kemudian dikenal sebagai Daulah Utsmaniyah. Dari reruntuhan dan penderitaan lahir peradaban yang selama berabad-abad menjaga dunia Islam dan mengibarkan panji tauhid di tiga benua.
Inilah pelajaran yang sering kita lupakan. Kita terlalu cepat menilai peristiwa dari permukaannya. Ketika kehilangan pekerjaan, kita mengira hidup telah hancur. Ketika gagal dalam usaha, kita menyangka masa depan telah tertutup. Ketika melihat umat Islam terpecah, tertinggal, atau tertimpa musibah, kita merasa tidak ada lagi harapan.
Padahal Allah sedang menyusun kemenangan yang belum tampak.
Bukankah Nabi Yusuf harus masuk sumur dan penjara sebelum menjadi penguasa Mesir? Bukankah Nabi Musa harus terusir dari tanah kelahirannya sebelum menjadi pembebas Bani Israil? Bukankah Rasulullah ? harus meninggalkan Makkah yang dicintainya sebelum kembali sebagai pemenang?
Sejarah para nabi dan sejarah umat ini mengajarkan satu hukum yang sama: sering kali kemenangan lahir dari rahim penderitaan.
Karena itu, jangan pernah berputus asa terhadap masa depan umat. Jangan pula berputus asa terhadap kehidupan kita sendiri. Apa yang hari ini tampak sebagai musibah, boleh jadi sedang Allah persiapkan menjadi jalan menuju kebaikan yang lebih besar.
Allah berfirman:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 216]
Maka ketika melihat berbagai krisis yang menimpa umat hari ini, jangan hanya melihat luka dan air mata. Lihatlah dengan mata iman. Bisa jadi di tengah generasi yang sedang tumbuh hari ini, Allah sedang menyiapkan para pembaharu, para ulama, para pemimpin, dan para pejuang yang akan mengubah arah sejarah.
Sebab Allah tidak pernah meninggalkan umat ini. Jika kemarin Allah melahirkan Mamluk dari anak-anak yatim korban Mongol, maka bukan mustahil Allah juga sedang menyiapkan kebangkitan baru dari balik berbagai ujian yang kita saksikan hari ini.
Jangan takut jika hari ini kita berada di tengah gelapnya malam. Sebab dalam sunnatullah, fajar selalu lahir dari titik tergelapnya malam. Dan sering kali, kemenangan terbesar justru ditulis Allah di balik luka yang paling dalam. (***)
_____
Penulis adalah Dr. H. Mawardi Muhammad Saleh, Lc., M.A (Ulama dan Tokoh Riau)
Komentar Anda :