SULUHRIAU, Siak– Dana desa kerap dipandang sebatas anggaran pembangunan infrastruktur atau program rutin pemerintahan. Namun di Kampung Buantan Besar, Kecamatan Siak, anggaran tersebut justru disulap menjadi usaha produktif yang kini mulai menghasilkan pendapatan bagi desa.
Di atas lahan seluas 1.500 meter persegi, ribuan tanaman melon premium tumbuh subur di dalam greenhouse modern. Hasilnya bukan hanya panen buah berkualitas tinggi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang dikelola langsung oleh masyarakat melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMkam).
Keberhasilan itu terlihat saat panen raya tahap kedua Agro Siak Farm yang digelar akhir pekan lalu. Ribuan buah melon siap dipasarkan setelah melalui masa tanam yang relatif singkat, hanya sekitar dua hingga tiga bulan.
Bupati Siak Afni Zulkifli yang meninjau langsung lokasi tersebut menilai keberhasilan Agro Siak Farm menjadi contoh bagaimana dana desa dapat dikelola menjadi usaha yang menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan.
"Jika dana desa dikelola dengan komitmen yang kuat, manajemen yang baik dan tepat sasaran, maka manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat melalui peningkatan pendapatan desa," ujarnya.
Namun cerita sukses ini tidak lahir dalam semalam. Menurut Penghulu Kampung Buantan Besar, Suwanto, proyek Agro Siak Farm mulai dibangun pada awal 2026 dengan modal awal sekitar Rp163 juta yang bersumber dari dana desa.
Alih-alih dikelola secara konvensional, pemerintah kampung menggandeng kelompok masyarakat melalui pola kerja sama yang difokuskan pada pengembangan usaha pertanian modern.
Hasilnya mulai terlihat dalam waktu kurang dari satu tahun.
Ketua Pengelola Agro Siak Farm, Siswanto, menjelaskan bahwa lahan tersebut saat ini memiliki tiga unit greenhouse dengan total sekitar 3.000 batang tanaman melon.
Teknologi greenhouse dipilih untuk menjaga kualitas tanaman dari gangguan cuaca dan serangan hama sehingga produktivitas dapat lebih terjamin.
"Dari satu greenhouse saja, hasil panennya bisa mencapai sekitar 1,2 ton melon premium. Jika tiga greenhouse panen bersamaan, total produksinya bisa mencapai sekitar 3,6 ton dalam satu siklus panen," jelasnya.
Melon yang dihasilkan bukan sembarang melon. Agro Siak Farm membudidayakan sejumlah varietas premium yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding melon biasa.
Di antaranya Sweet Lavender, Sweet Hami, Honey Globe, hingga Skid Row yang dipasarkan dengan harga berkisar Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram.
Namun yang membuat usaha ini berbeda bukan hanya soal hasil panennya.
Pengelola juga mengembangkan konsep agro wisata yang memungkinkan pengunjung datang langsung ke lokasi kebun untuk melihat proses budidaya hingga memetik sendiri buah melon yang akan dibeli.
Konsep tersebut mulai menarik perhatian masyarakat karena menghadirkan pengalaman berbeda dibanding membeli buah di pasar atau toko.
Pengunjung dapat berjalan di antara deretan tanaman melon yang tertata rapi di dalam greenhouse, memilih buah yang diinginkan, lalu langsung menimbang dan membawanya pulang.
Model usaha seperti ini dinilai memberikan nilai tambah karena tidak hanya mengandalkan penjualan hasil pertanian, tetapi juga membuka peluang sektor wisata berbasis edukasi.
Bagi Pemerintah Kabupaten Siak, keberhasilan Buantan Besar menjadi bukti bahwa desa memiliki peluang besar untuk tumbuh mandiri apabila mampu membaca potensi lokal dan mengelolanya secara profesional.
Di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah, langkah yang dilakukan Kampung Buantan Besar menunjukkan bahwa dana desa tidak selalu berakhir pada pembangunan fisik.
Dengan pengelolaan yang tepat, anggaran tersebut bisa menjadi modal untuk menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Kini, dari balik greenhouse yang berdiri di sudut kampung itu, Buantan Besar mulai memetik hasil dari sebuah gagasan sederhana: menjadikan dana desa sebagai investasi masa depan, bukan sekadar belanja tahunan. (san)
Editor: Khairul
Komentar Anda :