SULUHRIAU, Pekanbaru— Pagi tidak lagi terang. Malam tidak lagi berbintang.
Langit Pekanbaru kembali diselimuti asap tebal, Selasa (15/9/2026). Kabut yang turun sejak pagi membuat matahari sulit terlihat dan udara terasa berat.
Bagi warga, ini bukan sekadar jarak pandang yang berkurang.
Ini tentang napas yang sesak dan mata yang perih setiap kali keluar rumah.
Suma (31), warga Marpoyan Damai, menggambarkan perubahan itu. "Semakin pekat asap di Pekanbaru. Kalau malam kita tidak bisa melihat bintang, kalau pagi hingga tengah hari tidak bisa bersentuhan langsung dengan matahari," katanya.
Kondisi itu membuat aktivitas luar rumah tidak nyaman. Banyak warga memilih mempercepat pulang dan mengurangi kegiatan di luar.
Hal sama dirasakan Deni (45). Malam sebelumnya ia berencana mengajak keluarga jalan-jalan dengan sepeda motor. Rencana itu batal karena kualitas udara sudah sangat tidak sehat.
Sudah hampir sebulan kabut asap bertahan di Pekanbaru. Dampaknya mulai terasa ke kesehatan.
"Sejak sepekan terakhir saya batuk-batuk, tenggorokan gatal. Sekarang harus kurangi keluar rumah. Habis kerja saya langsung pulang," ujar Deni.
Kondisi di lapangan sejalan dengan prakiraan BMKG. Untuk wilayah Riau, cuaca pagi hingga siang diprediksi udara kabur hingga berawan dengan potensi kekaburan akibat asap.
Potensi itu diprakirakan bertahan sampai sore, malam, dan dini hari. Asap menurunkan jarak pandang sekaligus memengaruhi kualitas udara.
Suhu udara Riau pada Selasa berada di kisaran 23 hingga 34 derajat Celsius. Kelembapan 45 sampai 99 persen. Angin bertiup dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 10 sampai 40 kilometer per jam.
Sumber asap belum mereda.
Data hotspot Sumatera per pukul 23.00 WIB mencatat 4.127 titik. Sumatera Selatan tertinggi dengan 2.878 titik.
Di Riau, tercatat 96 titik panas. Terbanyak di Indragiri Hulu 70 titik, Dumai tujuh titik, dan Pelalawan enam titik.
Titik lain tersebar di Kampar empat titik, Indragiri Hilir empat titik, Siak dua titik, serta Bengkalis, Kepulauan Meranti, dan Rokan Hulu masing-masing satu titik.
Meski tanpa peringatan dini cuaca ekstrem, potensi kekaburan masih jadi perhatian. Karena bagi warga Pekanbaru, langit yang biasanya bagian sederhana dari keseharian kini sulit dinikmati.
Pagi datang tanpa matahari yang jelas. Malam berlalu tanpa bintang. Di antaranya, warga bertahan dengan masker dan keluhan yang sama, mata perih dan napas sesak. (src)
Komentar Anda :