SULUHRIAU, Pekanbaru— Tekanan kenaikan harga barang dan jasa di Provinsi Riau masih terasa hingga Oktober 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan mencapai 3,09 persen, dengan Kabupaten Kampar menjadi daerah yang mengalami kenaikan harga tertinggi, sementara Kota Pekanbaru mencatat angka terendah.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perubahan harga tidak hanya terjadi pada kebutuhan pangan, tetapi juga menjangkau transportasi, kesehatan, pendidikan, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga.
Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi, mengatakan inflasi secara tahunan atau "year on year" (y-on-y) pada Oktober 2026 mencapai 3,09 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,53.
"Inflasi tahunan ini terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh meningkatnya indeks pada seluruh kelompok pengeluaran," ujar Asep, Senin (2/11/2026).
Pekanbaru Terendah
Berdasarkan wilayah yang tercakup dalam penghitungan inflasi, Kabupaten Kampar mencatat kenaikan harga tahunan paling tinggi, yakni 3,94 persen dengan IHK sebesar 115,95.
Sebaliknya, Kota Pekanbaru mencatat inflasi terendah sebesar 2,69 persen dengan IHK 113,65.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tekanan kenaikan harga tidak berlangsung dengan tingkat yang sama di setiap daerah. Perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat dapat memberikan dampak berbeda terhadap perkembangan inflasi masing-masing wilayah.
Meski Pekanbaru mencatat inflasi lebih rendah dibandingkan Kampar, bukan berarti harga kebutuhan masyarakat di ibu kota Provinsi Riau itu mengalami penurunan. Angka tersebut menunjukkan laju kenaikan harga secara tahunan yang lebih rendah.
Transportasi Jadi Kelompok dengan Inflasi Tertinggi
Dari seluruh kelompok pengeluaran, transportasi mencatat inflasi tahunan tertinggi, yakni 4,97 persen.
Angka tersebut disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,34 persen. Sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 3,79 persen.
Kenaikan pada ketiga kelompok ini menjadi perhatian karena berkaitan dengan berbagai kebutuhan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Tidak hanya itu, kelompok kesehatan juga mengalami inflasi sebesar 3,50 persen, sedangkan penyediaan makanan dan minuman atau restoran mencatat kenaikan 2,82 persen.
Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami inflasi 2,52 persen. Adapun kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencatat inflasi sebesar 2,42 persen.
Kenaikan harga turut terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,56 persen.
Sementara itu, kelompok pendidikan mencatat inflasi 1,51 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,91 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,49 persen.
Dengan demikian, seluruh kelompok pengeluaran yang dipantau BPS mengalami kenaikan indeks harga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Inflasi Bulanan Riau Capai 0,23 Persen

Selain mencatat perkembangan harga secara tahunan, BPS juga mengukur perubahan harga dari bulan ke bulan serta secara kumulatif sejak awal tahun.
Pada Oktober 2026, Riau mengalami inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,23 persen.
Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d), yang dihitung sejak Desember 2025 hingga Oktober 2026, mencapai 2,08 persen.
Ketiga indikator tersebut memberikan gambaran berbeda mengenai pergerakan harga. Inflasi tahunan menunjukkan perubahan harga dibandingkan Oktober tahun sebelumnya, sedangkan inflasi bulanan menggambarkan kenaikan harga dari September ke Oktober 2026.
Adapun inflasi tahun kalender menunjukkan akumulasi perubahan harga sejak akhir tahun sebelumnya.
Kenaikan Harga Jadi Perhatian
Perkembangan inflasi tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk membaca kondisi perekonomian daerah, terutama berkaitan dengan daya beli masyarakat.
Ketika harga barang dan jasa meningkat, rumah tangga perlu menyesuaikan pengeluaran agar kebutuhan sehari-hari tetap dapat terpenuhi.
Namun, besarnya dampak terhadap setiap keluarga tidak selalu sama karena bergantung pada pola konsumsi, tingkat pendapatan, serta jenis kebutuhan yang paling banyak digunakan.
Data BPS juga memperlihatkan bahwa tekanan harga di Riau tidak hanya berasal dari kelompok makanan, tetapi tersebar pada seluruh kelompok pengeluaran.
Karena itu, perkembangan harga pada bulan-bulan berikutnya perlu terus dicermati, terutama untuk melihat apakah tekanan inflasi mulai mereda atau justru meningkat menjelang akhir tahun.
Bagi pemerintah daerah, data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dalam menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi pengendalian inflasi. Sementara bagi masyarakat, perkembangan inflasi menjadi gambaran mengenai perubahan biaya kebutuhan hidup dari waktu ke waktu.
Gambaran Inflasi Riau Oktober 2026
Tahunan (y-on-y)
3,09%
Bulanan (m-to-m)
0,23%
Tahun kalender
2,08%
Inflasi tahunan menurut kelompok pengeluaran
Persentase perubahan harga Oktober 2026 dibandingkan Oktober 2025
-Transportas
-Perawatan pribadi
-Makanan dan minuman
-Kesehatan
-Restoran
-Rekreasi dan budaya
-Informasi komunikasi
-Perumahan dan Energi
-Pendidikan
-Perlengkapan rumah
-Pakaian dan alas kaki.
Angka berdasarkan data BPS yang tercantum dalam naskah sumber. Persentase kelompok menunjukkan tingkat inflasi masing-masing, bukan besarnya sumbangan terhadap inflasi umum. (src)