Minggu, 16 Agustus 2026 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal | PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA | Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
 
 
☰ Pendidikan
Bukan via Grup WhatsApp, Ini Tips Orangtua Pantau Anak di Sekolah ala Profesor SEVIMA
Rabu, 29 April 2026 - 20:58:10 WIB

SULUHRIAU- Jutaan orang tua Indonesia setiap hari membuka grup WhatsApp wali kelas dengan keyakinan penuh bahwa mereka sudah cukup terlibat dalam pendidikan anak. 


Seringkali materi pembelajaran dan informasi pendidikan juga disebarkan lewat WhatsApp. Keyakinan itu salah besar, dan ada bukti ilmiah internasional yang membuktikannya.


Peringatan itu disampaikan Prof. Imas Maesaroh, M.Lib., Ph.D., Pakar SEVIMA sekaligus Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, dalam sesi talkshow Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah untuk Anak Berprestasi di EduFun East, Tunjungan Plaza 3, Surabaya (29/4/2026). 


Talkshow ini digelar sebagai bagian dari rangkaian pameran pendidikan yang menghadirkan ribuan sekolah dan orang tua murid — dalam satu forum yang jarang terjadi di luar momen rapotan.


"WhatsApp itu tidak dirancang untuk pendidikan. Kita yang memaksanya jadi alat komunikasi sekolah-orang tua karena tidak ada yang lain," ujar Profesor Imas, Selasa (29/4/2026).


Prof. Imas, yang sehari-hari juga mengemban peran sebagai ibu dari tiga anak, menyatakan bahwa persoalan ini bukan soal niat baik orang tua maupun sekolah. 


Masalahnya terletak pada sistem komunikasi yang tidak pernah dirancang untuk menangkap masalah lebih awal. Di tengah momen Ujian Nasional berbasis Tes Potensi Akademik (TPA) dan seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui SNBP, keterlambatan informasi tentang perkembangan anak bisa berdampak fatal terhadap kesiapan akademik mereka.


Riset Internasional: Dampak Informasi Rutin


Profesor Imas memaparkan penelitian Profesor Peter Bergman yang dipublikasikan di Journal of Political Economy tahun 2021, yang membagi orang tua menjadi dua kelompok. 


Kelompok pertama mendapat informasi perkembangan anak dari guru secara rutin setiap dua minggu sekali, sedangkan kelompok kedua tidak mendapat informasi apapun. Hasilnya mencolok: anak dari kelompok pertama mengalami kenaikan kompetensi akademik yang signifikan dari peringkat 30 di kelas bisa naik ke peringkat 10 atau 15. 


Kelompok kedua tidak menunjukkan kenaikan apapun, baik dari sisi akademik, karakter, maupun skill.


Penelitian lanjutan oleh Bergman dan Chan tahun 2021 di West Virginia memperkuat temuan ini. Sekolah yang mengirimkan pesan kepada orang tua setiap kali anak tidak masuk kelas, tidak mengerjakan tugas, atau mendapat nilai rendah mencatat penurunan angka kegagalan mata pelajaran sebesar 27 persen, sementara tingkat kehadiran siswa naik 12 persen. 


Hasil serupa juga ditemukan di Chile oleh tim Berlinski pada 2024 — nilai matematika naik dan kehadiran membaik-membuktikan pola ini berlaku di negara berkembang seperti Indonesia.


"Komunikasi guru-orang tua yang rutin dan akurat secara langsung menggerakkan karakter, kompetensi, dan skill anak," kata Profesor Imas. Ia menekankan bahwa temuan ini bukan sekadar teori: tiga penelitian dari tiga negara berbeda dengan ribuan subjek menunjukkan konsistensi yang tidak bisa diabaikan.


Hal ini tidak bisa berlangsung di Whatsapp karena lima hal. Pertama, informasi di grup WhatsApp bersifat broadcast generik untuk seluruh orang tua- bukan laporan spesifik per anak. Kedua, pesan penting dari guru kerap tenggelam di antara stiker, ucapan ulang tahun, dan obrolan yang tidak relevan.


Ketiga, informasi sensitif seperti penurunan nilai atau pelanggaran disiplin tidak seharusnya diekspos di forum terbuka yang dapat diakses puluhan keluarga sekaligus. Keempat, WhatsApp tidak terhubung dengan data akademik sekolah — orang tua tidak dapat melihat nilai harian, rekap kehadiran, maupun status pengumpulan tugas secara langsung dari platform tersebut. 


Kelima, ratusan notifikasi yang masuk setiap hari justru menjadi beban kognitif bagi orang tua bekerja, bukan sumber informasi yang berguna.


"Orang tua merasa sudah terhubung dengan sekolah karena ada di grup. Padahal yang mereka dapat hanya kebisingan, bukan informasi yang benar-benar dibutuhkan tentang kondisi spesifik anak mereka," ujarnya.


Prof. Imas juga menyoroti sisi guru. Tidak realistis mengharapkan seorang guru mengirim pesan personal ke puluhan orang tua, per anak, setiap hari di tengah beban administratif dan mengajar yang sudah sangat tinggi. Sistem komunikasi pendidikan yang baik harus bekerja secara otomatis, bukan mengandalkan tenaga manual guru yang sudah terbatas.


Tips Belajar, Berbagi Pengetahuan, dan Informasi


Prof. Imas menetapkan empat informasi minimum yang berhak diterima orang tua secara rutin dari sekolah: kehadiran anak secara real-time, perkembangan nilai akademik per mata pelajaran, jadwal dan kehadiran dalam kegiatan ekstrakurikuler, serta identitas dan kontak pendamping saat anak mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah.


Untuk menjawab kebutuhan tersebut, ia mendorong penggunaan platform terintegrasi yang mampu menyampaikan data kehadiran dan nilai secara real-time langsung kepada orang tua, tanpa menambah beban operasional guru.


"Berbagai aplikasi telah tersedia untuk hal ini, baik yang berfokus pada pembelajaran sinkronus atau tatap muka online seperti Zoom, maupun sistem akademik terintegrasi seperti SEVIMA PENA Parent Connect," ungkap Imas.


Dalam sistem akademik terintegrasi seperti SEVIMA PENA Parent Connect, data kehadiran, nilai akademik, dan aktivitas sekolah mengalir secara real-time langsung ke notifikasi orang tua. 


Orang tua dapat mengetahui apakah anak sudah masuk kelas, nilai yang baru diinput guru, hingga catatan kehadiran ekstrakurikuler — semua dalam satu platform, tanpa perlu menunggu rapotan atau mengandalkan grup WhatsApp yang penuh kebisingan.


Bagi orang tua dan pihak sekolah yang ingin memantau perilaku dan perkembangan anak, Prof. Imas menyarankan agar tidak menunggu akhir semester untuk mulai mengevaluasi kualitas komunikasi antara sekolah dan rumah. 


"Mulailah dengan satu pertanyaan sederhana kepada sekolah anak Bapak Ibu: seberapa cepat saya bisa tahu kalau anak saya tidak masuk kelas hari ini? Jawabannya akan langsung menunjukkan di mana mutu sekolah tersebut," pungkasnya  melalui rilis diterima. (***rls)


 




 
Berita Lainnya :
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  • Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
  • PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    02 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    03 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    04 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    05 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    06 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    07 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    08 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    09 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    10 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    11 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    12 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    13 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    14 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    15 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    16 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    17 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    18 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    19 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    20 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
    21 Dari Istana ke Desa Gobah, Prabowo Apresiasi 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
    22 Wujudkan WBBM 2026, Kemenkum Riau Benahi Data dan Inovasi Layanan
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat