Senin, 17 Agustus 2026 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal | PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA | Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
 
 
☰ Sosial Budaya
Foto Pembantaian Badak Ini Menangi Penghargaan Bergengsi Dunia
Kamis, 19 Oktober 2017 - 11:24:04 WIB

SULUHRIAU- Sebuah foto mengenai pembantaian badak memenangi penghargaan bergengsi Wildlife Photographer of This Year (WPY).

SULUHRIAU- Sebuah foto mengenai pembantaian badak memenangi penghargaan bergengsi Wildlife Photographer of This Year (WPY). Foto karya Brent Stirton asal Australia itu memperlihatkan seekor bangkai badak hitam yang culanya telah diambil. Diduga sejumlah pemburu membunuhnya di suaka margasatwa Hluhluwe Imfolozi dengan senjata api yang dilengkapi peredam suara.

Stirton mengabadikan foto tersebut sebagai bagian dari investigasi perdagangan organ badak secara ilegal. Untuk kepentingan penyelidikan pula, dia sudah berkunjung ke 30 tempat kejadian perkara sehingga membuatnya depresi.

"Dalam titik tertentu, saya kehilangan kepercayaan pada kemanusiaan," ujarnya.
Saat menerima penghargaan Wildlife Photographer of the Year (WPY) di London, pria
berusia 48 tahun itu mengaku meyakini bahwa aksi pembantaian badak yang dia abadikan amat mungkin dilakukan orang-orang setempat untuk memenuhi pesanan.

Umumnya, setelah kedua cula badak diambil, organ itu dijual ke makelar. Si makelar kemudian menyelundupkannya keluar Afrika menuju Cina atau Vietnam. Di kedua negara itu, cula badak punya nilai jual lebih tinggi ketimbang emas atau kokain.

Mengapa mahal? Stirton merujuk kepercayaan keliru sejumlah orang bahwa cula badak bisa
menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari kanker hingga batu ginjal."Kita memasuki zaman di mana setiap hewan, setiap makhluk hidup liar, ditaksir harganya. Dan
orang-orang yang menaksir harga itu perasaannya tidak melulu klop dengan perasaan
(sesama fotografer). Seseorang harus membela hak binatang dan makhluk hidup liar," tegas
Stirton.

Lewis Blackwell, ketua juri WPY, mengatakan foto badak yang diabadikan Stirton punya dampak terhadap kolega-koleganya. "Orang mungkin jijik, mungkin ngeri. Namun foto
itu memikat Anda dan Anda menjadi ingin tahu lebih banyak tentang kisah di baliknya. Dan Anda tidak bisa menghindarinya. Foto ini memperhadapkan Anda dengan apa yang terjadi
di dunia," kata Blackwell.

Selain fotografer alam liar tahun ini, ada pula penghargaan untuk fotografer muda alam liar
tahun ini. Kategori pada usia 15-17 tahun itu dimenangkan Danil Nelson asal Belanda.

Nelson mengabadikan foto seekor gorila berusia sembilan tahun yang bernama Caco. Gorila
tersebut bermukim di Taman Nasional Odzala di Republik Kongo.

WPY adalah salah satu penghargaan bergengsi dalam dunia fotografi. Penghargaan itu dimulai pada 1964 dan sejak itu telah berkembang luas. Tahun ini, ada 48.000 foto yang masuk dari 92 negara.

Sumber: BBCIndonesia.com \ Editor: Jandri




 
Berita Lainnya :
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  • Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
  • PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    02 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    03 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    04 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    05 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    06 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    07 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    08 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    09 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    10 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    11 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    12 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    13 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    14 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    15 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    16 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    17 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    18 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    19 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    20 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
    21 Dari Istana ke Desa Gobah, Prabowo Apresiasi 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
    22 Wujudkan WBBM 2026, Kemenkum Riau Benahi Data dan Inovasi Layanan
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat